batampos - Pemerintah Kota (Pemko) Batam tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja untuk memulangkan lima warga negara Indonesia (WNI) yang kini berada di Phnom Penh.
Keberadaan kelima WNI tersebut telah terdeteksi di sebuah hotel di Phnom Penh. Lokasi penginapan mereka juga telah disampaikan kepada pemerintah. Untuk sementara, kebutuhan tempat tinggal dan makan mereka ditanggung pemerintah melalui KBRI di Kamboja.
Namun, kelimanya tetap meminta bantuan agar dapat dipulangkan ke Batam.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Batam Rudy Panjaitan mengatakan, Pemko Batam masih berkoordinasi dengan KBRI dan pemerintah pusat untuk memastikan status keberangkatan kelima WNI serta mekanisme pemulangannya.
“Pemerintah dalam hal ini tetap berhati-hati. Kami sedang mengecek dan memastikan keberangkatan mereka, apakah resmi atau tidak resmi,” kata Rudy, Jumat (18/9) siang.
Baca Juga: WBP Lapas Perempuan Batam Keluhkan Tarif Wartel hingga Layanan Kunjungan
Menurut Rudy, koordinasi dilakukan bersama Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan Kementerian Luar Negeri melalui KBRI. Pemerintah juga masih menelusuri pekerjaan yang dijalani kelima WNI selama berada di Kamboja.
Dari penelusuran sementara, kelima WNI tersebut tidak tercatat dalam data resmi BP2MI sebagai pekerja migran Indonesia. Pemko menduga mereka berangkat menggunakan visa pariwisata, bukan visa pekerja.
Namun, Rudy menegaskan status tersebut masih dalam proses verifikasi. Pemerintah belum memastikan apakah keberangkatan mereka dilakukan melalui jalur resmi atau tidak.
Pemko Batam masih menunggu informasi dari KBRI, BP2MI, dan Kementerian Luar Negeri sebelum menentukan langkah pemulangan. Selain memastikan kepulangan, pemerintah ingin mengetahui secara jelas proses keberangkatan dan pekerjaan yang dijalani kelima WNI selama berada di Kamboja.
Rudy mengingatkan masyarakat Batam agar lebih berhati-hati menerima tawaran pekerjaan di luar negeri. Calon pekerja diminta memastikan legalitas agen, perusahaan, dokumen perjalanan, serta pekerjaan yang ditawarkan sebelum berangkat.
“Jangan tergiur dengan tawaran gaji besar, tetapi berangkat secara ilegal,” ujarnya.
Kelima WNI yang kini berada di Phnom Penh tersebut yakni Muhammad Sarizal, warga Tanjung Riau, Sekupang; Muhammad Fahrullah Harahap, warga Sagulung; Apri Gozali, warga Tiban Lama; Febry, warga Bengkong; dan Zulfajri, warga Tiban Lama.
Pemko Batam masih menunggu hasil koordinasi dengan pemerintah Indonesia melalui KBRI di Kamboja untuk memastikan status kelima WNI dan langkah pemulangan mereka ke Indonesia. (*)
Editor : Yofi Yuhendri