Investasi Pengolahan Air Laut Capai Rp500 Miliar

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 09:20 WIB
BANGUNAN pusat data (data center) berdiri megah di kawasan Nongsa Digital Park, Batam, Rabu (14/10). FOTO: CECEP MULYANA/BATAM POS
BANGUNAN pusat data (data center) berdiri megah di kawasan Nongsa Digital Park, Batam, Rabu (14/10). FOTO: CECEP MULYANA/BATAM POS

batampos - Pertumbuhan industri pusat data atau data center di Batam mulai membutuhkan dukungan infrastruktur yang semakin besar. Salah satu kebutuhan utama yang menjadi perhatian adalah pasokan air bersih untuk menunjang operasional fasilitas digital tersebut.

Mengantisipasi kebutuhan itu, Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong investor data center menyiapkan infrastruktur pendukung secara mandiri, termasuk fasilitas pengolahan air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan pasokan listrik.

Investasi pembangunan instalasi SWRO diperkirakan mencapai Rp400 miliar hingga Rp500 miliar. Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu mengolah air sekitar 300 liter per detik untuk masing-masing perusahaan atau data center.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan saat ini terdapat 10 perusahaan data center yang tercatat berinvestasi di Batam. Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di tiga lokasi, yakni Nongsa Digital Park (NDP), kawasan Kecamatan Nongsa di luar NDP, serta Kabil Industrial Estate (KIE).

“Di kawasan Nongsa Digital Park saat ini terdaftar enam perusahaan yang merupakan data center,” kata Ariastuty melalui keterangan resminya, Rabu (4/11).

Dari enam perusahaan di NDP, dua di antaranya telah menyelesaikan konstruksi. Satu perusahaan masih dalam proses pembangunan, sedangkan tiga lainnya berada pada tahap perencanaan konstruksi.

Sementara itu, dua perusahaan data center lainnya berada di kawasan Nongsa di luar NDP. Keduanya saat ini masih dalam tahap konstruksi.

Adapun dua perusahaan lainnya berlokasi di Kabil Industrial Estate dan juga sedang membangun fasilitas masing-masing.

Meski telah memaparkan jumlah serta sebaran investor, Ariastuty belum merinci nama-nama perusahaan yang masuk dalam daftar tersebut.

BP Batam Dorong Investor Bangun Infrastruktur Mandiri

Menurut Ariastuty, pertumbuhan industri pusat data harus diimbangi kesiapan infrastruktur pendukung. Karena itu, BP Batam mendorong penerapan konsep one investment.

Melalui konsep tersebut, investasi perusahaan tidak hanya diarahkan untuk membangun fasilitas data center, tetapi juga mencakup penyediaan kebutuhan air dan kelistrikan.

Dengan begitu, perusahaan diharapkan ikut menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan operasional industri sekaligus memberikan manfaat bagi Batam.

“Investasi untuk perusahaan atau data center, lalu investasi terhadap air dan juga investasi terhadap kelistrikan. Sehingga membawa manfaat yang besar untuk Kota Batam,” ujarnya.

Salah satu solusi pemenuhan kebutuhan air yang ditawarkan adalah pembangunan instalasi SWRO. Teknologi ini mengolah air laut menjadi air tawar melalui proses penyaringan dan pemisahan kandungan garam menggunakan membran bertekanan tinggi.

Ariastuty menyebut teknologi SWRO menjadi salah satu alternatif untuk mendukung kebutuhan air industri pusat data di Batam.

“Investasi untuk SWRO memakan biaya kurang lebih Rp400 miliar sampai Rp500 miliar dengan kebutuhan air estimasi mencapai 300 liter per detik,” katanya.

Pembangunan instalasi tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga tahun. Durasi pengerjaan bergantung pada kapasitas produksi air dan skala fasilitas yang dibangun.

Lima Tahapan Pengolahan Air Laut Menjadi Air Bersih

Ariastuty menjelaskan, proses pengolahan air laut menggunakan teknologi SWRO terdiri atas lima tahapan utama.

Tahap pertama adalah pengambilan air laut atau intake. Air laut dialirkan melalui pipa khusus yang dilengkapi sistem penyaringan awal untuk menahan kotoran dan material berukuran besar agar tidak masuk ke proses selanjutnya.

Tahap kedua berupa pra-pengolahan atau pretreatment. Pada tahap ini, kualitas air disiapkan sebelum memasuki membran utama. Prosesnya mencakup penyaringan partikel, flotasi udara terlarut atau dissolved air flotation, serta penggunaan bahan kimia antikerak atau antiscalant.

Tahap ketiga merupakan proses inti, yakni reverse osmosis. Air laut diberi tekanan tinggi agar dapat melewati membran khusus yang memisahkan kandungan garam dan zat terlarut lainnya. Air yang berhasil melewati membran kemudian menghasilkan air tawar.

“Ini proses yang mempunyai nilai investasi yang paling tinggi,” jelasnya.

Setelah itu, air memasuki tahap keempat atau post-treatment. Proses ini meliputi penyesuaian kandungan mineral, desinfeksi, serta penyimpanan air hasil pengolahan.

Tahap terakhir adalah distribusi. Air yang telah melalui seluruh proses pengolahan kemudian disalurkan kepada perusahaan data center maupun kawasan ekonomi khusus (KEK) yang membutuhkan pasokan air bersih secara stabil.

Dengan kebutuhan air yang terus meningkat seiring ekspansi industri pusat data, pembangunan infrastruktur pengolahan air menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan investasi digital di Batam. (*)

Editor : Putut Ariyo
Data Center Batam Infrastruktur Air bp batam Swro investasi batam