Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual biasa. Tradisi ini merupakan kearifan lokal dan warisan leluhur masyarakat Melayu. Berakar dari keyakinan religius serta adat budaya, tradisi ini merupakan doa permohonan tulus kepada Maha Kuasa, agar terhindar dari Malapetaka.
***
Pagi itu, hari al-Arba'a tanggal 26 Safar 1447 Hijriah, cahaya matahari lembut menyinari Pulau Penyengat Tanjungpinang. Diringi angin laut yang berhembus pelan, puluhan orang bersiap, baik lelaki, perempuan, tua, dan muda.
Puluhan orang berpakaian sopan dan rapi bernuasa Melayu. Sebagian anak muda mengenakan kain sarung dan baju kurung Melayu. Wajah bercahaya penuh gembira, seakan tengah menuju sebuah pertemuan sakral.
Pagi itu pula, masyarakat yang memakai pakaian terbaik, membuat Pulau Penyengat Tanjungpinang seakan berubah menjadi panggung religi dan bernuansa spiritual.
Ternyata, hari yang bercahaya itu, bukan hari biasa. Hari itu adalah hari penuh doa dan sakral. Hari yang bertepatan pada Rabu 20 Agustus 2025 adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar. Bulan ke-2 dalam kalender Islam.
Hari dan bulan yang sejak ratusan tahun lalu dipercaya oleh masyarakat Melayu Islam untuk memanjatkan doa kebaikan dan tolak bala yang dibalut dalam sebuah tradisi sakral, yaitu Mandi Safar.
Puluhan anak muda didampingi oleh orang tua dan kerabatnya itu bersemangat dan bersiap menuju ke Balai Keluharan Penyengat untuk mengikuti Mandi Safar.
Di Balai Kelurahan Penyengat, sejumlah Ulama, tokoh adat Melayu dan tokoh masyarakat, telah menunggu anak-anak muda yang akan mengikuti Mandi Safar.
Anak-anak muda khususnya lelaki itu pun tiba. Tanpa malu, anak-anak muda itu membuka pakaian dan hanya mengenakan sarung. Lalu duduk berjejer di kursi yang telah disediakan sebelumnya.
Sejumlah ulama dan tokoh adat, secara bergantian membasuh kepala anak-anak muda itu menggunakan centong batok kelapa yang berisi air doa permohonan kepada Yang Maha Kuasa.
Air doa keselamatan itu lalu membasahi seluruh tubuh dan terasa seperti aliran berkah. Senyum, doa dan percikan air bercampur menjadi satu. Menciptakan harmoni antara tradisi, kebersamaan dan keimanan.
Selain itu, Mandi Safar bukan hanya sekadar membersihkan tubuh, tapi melambangkan permohonan perlindungan kepada Yang Maha Kuasa, agar terhindar dari segala hal buruk, bala dan malapetaka.
Dalam prosesi Mandi Safar di Pulau Penyengat Tanjungpinang, Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza ikut memandikan anak-anak sebagai simbol penerusan tradisi. Harapannya agar Kota Tanjungpinang beserta masyarakatnya, terhindar dari hal-hal buruk atau tolak bala.
Raja Ariza memberikan apresiasi kepada seluruh pengurus Masjid Raya Sultan Riau Penyengat atas upaya melestarikan tradisi Mandi Safar sebagai budaya tak benda Kota Tanjungpinang.
“Masih banyak adat dan tradisi lokal yang perlu dilestarikan agar budaya Melayu terus hidup,” katanya.
Tradisi Mandi Safar, kata Ariza, harus terus digelar sebagai agenda tahunan dan sebagai bagian dari pelestarian Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Tanjungpinang.
"Tujuannya agar tetap terpelihara untuk generasi mendatang,” jelas Ariza.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan Kepri Juramadi Esram, mengatakan Mandi Safar merupakan bentuk syukur sekaligus upaya menjaga warisan budaya.
Menurutnya, Pulau Penyengat Tanjungpinang dikenal sebagai pusat peradaban Melayu yang sarat nilai budaya dan spiritual. Karena itu, ritual Mandi Safar menjadi wujud rasa syukur.
"Sekaligus upaya menjaga agar tradisi tetap lestari dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Pemerintah Provinsi Kepri juga terus berkomitmen mendukung pelestarian adat dan tradisi yang sarat nilai lokal, seperti Mandi Safar, yang diyakini menjadi bagian dari identitas bangsa.
“Saya mengajak masyarakat menjadikan momentum ini sebagai sarana mempererat silaturahmi sekaligus menjaga Pulau Penyengat yang kaya sejarah dan budaya religius,” imbau Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Tanjungpinang ini.
Tradisi dari Zaman Kesultanan Riau Lingga
Sementara itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dedi Arman menjelaskan, tradisi Mandi Safar berakar dari masa kerajaan yang berpusat di Pulau Penyengat Tanjungpinang.
Sejarah mencatat, Mandi Safar sebagai amalan doa bersama di bulan Safar, telah dipraktikkan sejak era Kesultanan Riau Lingga.
Pada ratusan tahun silam itu, ulama, raja dan bangsawan Melayu mengajarkan doa bersama, dzikir kemudian menggelar Mandi Safar sebagai simbol penyucian diri pada hari hari al-Arba'a terakhir di bulan Safar.
Mandi Safar, jelas Dedi, diyakini sebagai perantara doa permohonan kepada Allah, agar terhindar dari hal-hal buruk. Terhindar dari seluruh bala dan mara bahaya yang mungkin menimpa.
"Mandi Safar itu ritual dan tradisi yang sudah ada sejak zaman Kesultanan Riau Lingga sekitar tahun 1900. Digelar di Lingga dan Pulau Penyengat Tanjungpinang," jelas Dedi, Kamis (21/8).
Kini, lanjut Dedi, Mandi Safar tidak hanya menjadi ritual tolak bala. Namun menjadi pesta budaya yang bernuasa religi hingga menjadi agenda tahunan bagi pemerintah dan masyarakat.
"Saat ini sudah digelar setiap tahun. Tetapi esensinya tetap sama yaitu memanjakan doa kepada Allah agar terhindar dari malapetaka," jelasnya.
Dedi menambahkan, meski zaman telah berubah, tradisi ini harus tetap dilestarikan dan dijaga. Pemerintah daerah harus menjadikan tradisi Mandi Safa sebagai agenda budaya dan wisata religi tahunan.
Di tengah modernitas, ritual klasik ini menjadi pengingat bahwa manusia selalu butuh sandaran doa, agar senantiasa terjaga dan terhindar dari segala hal buruk. Selain itu, menjadi warisan yang dapat menyatukan masyarakat dengan nilai spiritualitas, keimanan dan kearifan lokal.
"Jadi kewajiban pemerintah daerah untuk menjaga dan melestarikan tradisi ini. Jangan cuma penetapan WBTb saja. Tapi harus ada pelestarian juga," tutupnya. (*)
Editor : Tunggul Manurung