Batampos - Tiga negara, yakni Inggris, Kanada, dan Australia mengakui kedaulatan resmi Palestina sebagai negara, Minggu (21/9/2025) waktu setempat. Ini menjadi langkah yang lahir dari frustrasi atas perang Gaza, yang juga dianggap sebagai solusi dua negara (Two-stated Solution, Red) atas peristiwa yang berkepanjangan.
Dipastikan, ini akan memicu kemarahan Israel dan negara sekutunya, Amerika Serikat.
Keputusan tiga negara Barat itu, yang selama ini dikenal sebagai sekutu Israel, menempatkan penambahan jumlah negara dengan 140 negara lain, termasuk Indonesia, yang juga mendukung aspirasi rakyat Palestina untuk membentuk tanah air merdeka dari wilayah yang diduduki Israel.
Keputusan Inggris memiliki simbolisme khusus, mengingat perannya dalam pembentukan Israel sebagai negara modern setelah Perang Dunia Kedua. " Untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian bagi Palestina dan Israel, serta solusi dua negara, Inggris hari ini secara resmi mengakui Negara Palestina," ujar Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, seperti dikutip dari Reuters, malam ini.
Dia mengatakan, krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza semakin dalam. "Bom tanpa henti dan semakin gencar oleh pemerintah Israel, serangan dalam beberapa pekan terakhir, kelaparan, dan kehancuran sungguh tidak dapat ditoleransi," ujarnya.
Negara lain, termasuk Prancis, diperkirakan akan mengikuti langkah serupa pekan ini di Sidang Umum PBB di New York.
Menteri Keamanan Israel, Itamar Ben-Gvir, mengatakan keputusan dari tiga negara tersebut yang mengakui kedaulatan Palestina, adalah bentuk hadiah bagi kelompok teroris militan Hams, yang bertanggungjawab atas serangan 7 Oktober 2023 lalu, yang juga menjadi pemicu perang yang kini hampir memasuki tahun kedua. Serangan itu menewaskan 1.200 orang dan 251 orang lainnya disandera, menurut data Israel.
Otoritas Kesehatan Gaza mencatat, serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 65 ribu warga Palestina, yang sebagian besar adalah warga sipil. Serangan ini menyebabkan kelaparan, merusak rumah dan bangunan lainnya, serta membuat penduduk Gaza mengungsi ke tempat yang lebih aman. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak