batampos - Kehadiran wisatawan Israel di pulau wisata Koh Phangan, Thailand, memicu krisis sosial dan ekonomi setelah mereka diduga tidak menghormati budaya dan tata krama setempat.
Mereka dianggap mengambil alih peluang ekonomi warga lokal. Banyak wisatawan Israel yang datang mendirikan bisnis atau pusat keagamaan.
Dalam satu insiden yang viral, seorang wisatawan Israel dituduh menolak melepaskan sepatu ketika masuk restoran.
"Uang saya membangun negara anda," kata wisatawan tersebut, dikutip dari Khaosod English, Senin (3/11).
Sontak perkataan wisatawan Israel memicu reaksi keras dari warga setempat. Pemerintah Thailand melalui pihak kepolisian provinsi mengeluarkan peringatan kepada wisatawan Israel agar menghormati hukum dan budaya Thailand.
"Sebanyak 2.627 warga Israel saat ini sedang mengajukan perpanjangan visa di Koh Phangan," menurut data Imigrasi Thailand, dikutip dari Bharian Malaysia.
Wakil Kepala Desa Koh Phangan, Apiwat Sriwatcharaporn, mengatakan bahwa kehadiran para wisatawan Israel tersebut menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keseimbangan sosial dan ekonomi lokal.
Jumlah kedatangan wisatawan Israel diperkirakan mencapai 350.000 orang pada tahun 2025. Meningkat 25% dibanding tahun sebelumnya.
Polisi Thailand kini melakukan penyelidikan besar - besaran untuk mengungkap jaringan bisnis ilegal dan meninjau ulang status visa warga Israel di pulau itu.
Kedutaan besar Israel di Bangkok juga mengeluarkan peringatan resmi kepada warganya agar menghormati hukum dan budaya Thailand.
Kemarahan warga lokal mencapai puncaknya ketika seorang pemilik restoran, Bob, mengambil langkah ekstrem dengan memasang papan bertuliskan “No Israel” (Orang Israel Dilarang Masuk) di pintu restorannya, Pun Pun Thai Food.
“Saya sudah putus ada dengan perlaku mereka yang terus berulang. Saya tidak punya pilihan selain memasang tanda ‘No Israel’,” ucap pemilik Pun Pun Thai Food, Bob, dikutip dari Bharian Malaysia.
Selain persoalan perilaku, warga lokal juga menuding wisatawan Israel melakukan ekspansi ekonomi ilegal, seperti menyewa properti, membuka restoran, dan menjalankan bisnis tur tanpa izin resmi yang sebagian besar hanya melayani komunitas mereka sendiri.(*)
Editor : Juliana Belence