Batampos - Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dijadwalkan berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jumat (12/12/2025) pada Jumat malam terkait konflik bersenjata yang kembali pecah antara Thailand dan Kamboja. Bentrokan di sepanjang perbatasan kedua negara telah berlangsung selama lima hari berturut-turut.
Thailand dan Kamboja saling menembakkan roket dan artileri di sejumlah titik di sepanjang perbatasan sepanjang 817 km yang masih disengketakan. Intensitas kekerasan ini menjadi yang terburuk sejak pertempuran lima hari pada Juli 2025 lalu, yang saat itu berhasil dihentikan setelah Trump menghubungi kedua pemimpin negara.
Anutin mengatakan ia akan memberikan pembaruan situasi kepada Trump sekitar pukul 21.20 waktu Thailand. Sementara Trump, yang ingin mempertahankan gencatan senjata yang sebelumnya ia mediasi, berjanji untuk kembali menghubungi kedua pemimpin Asia Tenggara tersebut.
Pada Oktober lalu, dalam pertemuan di Malaysia, Anutin dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menandatangani kesepakatan gencatan senjata. Trump, yang berulang kali menyebut dirinya layak menerima Nobel Perdamaian, menyatakan optimistis bisa mengembalikan situasi ke jalur damai. Demikian dilansir dari Reuters, siang ini.
Kamboja Tuduh Thailand Lakukan Serangan Brutal
Konflik yang terjadi pekan ini telah menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai lebih dari 260 lainnya, dan membuat lebih dari setengah juta warga mengungsi dari kawasan perbatasan tersebut. Kedua negara saling menyalahkan atas pecahnya kembali bentrokan.
Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh Thailand menargetkan wilayah sipil dalam serangan bersenjata brutal. Thailand disebut menembakkan artileri dan senapan mesin di beberapa lokasi, termasuk dekat kawasan kuil kuno, serta mengerahkan kendaraan lapis baja ke wilayah yang diklaim sebagai milik Kamboja.
Sementara itu, militer Thailand menuduh Kamboja melakukan pelanggaran wilayah sehingga pihaknya membela diri untuk menghentikan ancaman dan melindungi kedaulatan negara.
Baca Juga: Tujuh Tersangka Dugaan Korupsi Revitalisasi Pelabuhan Batuampar Diserahkan ke Kejaksaan Negeri Batam
Belum jelas apakah upaya Trump akan berhasil menghentikan kekerasan kali ini. Militer Thailand menyatakan ingin melumpuhkan kemampuan militer Kamboja, dan Anutin telah memberikan dukungan penuh kepada operasi yang disiapkan angkatan bersenjata.
Penasihat utama Hun Manet mengatakan Kamboja siap kapan saja untuk mediasi. Namun Thailand menolak mediasi dan meminta Kamboja menunjukkan itikad baik sebelum negosiasi bilateral dapat dilakukan.
Thailand menyampaikan bahwa Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, menyatakan komitmen Bangkok terhadap perdamaian namun menyoroti meningkatnya pola serangan Kamboja.
Juru bicara pemerintah Kamboja, Pen Bona, mengatakan belum mengetahui adanya jadwal panggilan antara Hun Manet dan Trump, namun menyebut PM Kamboja selalu siap untuk dialog mediasi kapan saja.
Meski Trump berencana turun tangan, Anutin menyebut situasi tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkat telepon. "Langkah lanjutan dalam konflik ini tetap menjadi kewenangan pemerintah dan militer Thailand," tegasnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak