Batampos - Sejumlah pelabuhan di Malaysia berpotensi mendapatkan limpahan kargo akibat perubahan rute pelayaran global imbas peperangan yang terjadi di Iran, khususnya di Selat Hormuz. Namun, pelaku industri memperingatkan risiko utama justru terletak pada potensi kemacetan logistik.
Dua hub transhipment utama, yakni Port Klang dan Port of Tanjung Pelepas (PTP), dinilai sebagai kandidat utama dalam menampung pengalihan kargo dari jalur terdampak konflik.Meski begitu, kondisi di lapangan belum menunjukkan gangguan signifikan.
Otoritas Pelabuhan Klang menyatakan operasional masih berjalan normal tanpa indikasi kemacetan. Namun, asosiasi pelayaran Malaysia mengungkapkan, sejumlah kapal sudah mulai mengubah rute, bahkan durasi sandar meningkat, dan jadwal pengiriman mulai terganggu.
Melansir dari Asean Business, Asosiasi Pemilik Kapal Malaysia menyebutkan banyak kapal kini menghindari jalur konflik dan memilih rute alternatif seperti melalui Tanjung Harapan di Afrika. Hal ini terjadi setelah perusahaan asuransi menarik perlindungan risiko perang untuk pelayaran di kawasan konflik.
Akibatnya, pelabuhan menghadapi tekanan baru berupa keterlambatan kapal, kontainer yang tertahan, serta ketidakteraturan jadwal. Kondisi ini dinilai lebih berisiko dibanding lonjakan volume kargo itu sendiri. "Kami memperkirakan akan terjadi kemacetan baik kapal maupun kargo di pelabuhan Malaysia," ujar Ketua asosiasi tersebut, Sabtu (28/3/2026).
Analis maritim dari Drewry Shipping Consultants menilai pelabuhan Malaysia dapat mengambil keuntungan dari pengalihan rute ini. Namun, peluang tersebut juga akan diperebutkan oleh pusat transhipment lain di kawasan seperti PSA International di Singapura, serta pelabuhan di Kolombo dan Vizhinjam. Lantas bagaimana dengan Pelabuhan Batuampar di Batam, Indonesia?
Di tengah dinamika dunia saat ini, perhatian juga tertuju pada Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah jalur tersebut mampu menampung tambahan lalu lintas kapal tanpa menimbulkan kemacetan baru.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, keseimbangan operasional pelabuhan di kawasan Asia Tenggara dan kawasan Asia Pasifik berpotensi berubah dengan cepat. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak