Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Seruan Paskah dari Yerusalem, Kardinal Pizzaballa Sebut Sabda Tuhan Lebih Nyaring dari Keheningan

Chahaya Simanjuntak • Minggu, 5 April 2026 | 09:00 WIB
Kardinal Pierbattista Pizzaballa saat memimpin ibadah perayaan vigili Paskah di Holy Sepulchre, gereja makam kudus Yesus di Yerusalem, Sabtu (4/4/2026) waktu setempat. F Vatican News
Kardinal Pierbattista Pizzaballa saat memimpin ibadah perayaan vigili Paskah di Holy Sepulchre, gereja makam kudus Yesus di Yerusalem, Sabtu (4/4/2026) waktu setempat. F Vatican News

Batampos - Patriark Latin Yerusalem, Pierbattista Pizzaballa menyerukan Sabda Tuhan bergema lebih nyaring daripada keheningan. Hal ini ia ucapkan dalam homilinya pada perayaan Vigili Paskah, langsung dari Basilika Makam Kudus Tuhan Yesus Kristus di Yerusalem, Sabtu (4/4/2026) waktu setempat.

Dalam misa dengan penjagaan keamanan ketat dan dihadiri umat terbatas itu, Kardinal Pizzaballa menyampaikan, Paskah tidak dimulai dengan kemenangan, melainkan dengan mendengarkan kisah yang menghadapi kematian terlebih dahulu untuk mencapai kehidupan.

"Yerusalem, kota yang ditandai oleh ingatan akan kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kini menghadapi perpecahan, namun tetap menjadi tempat di mana kehidupan lewat kemenangan atas maut diproklamasikan," ujarnya seperti dilansir dari Vatican News, Minggu (5/4/2026) dini hari.

Baca Juga: Trump Beri Waktu 48 Jam Bagi Iran Buka Kembali Selat Hormuz

Ia mengatakan, Tanah Suci masih diliputi konflik Israel dan Palestina hingga saat ini. " Dengan pintu-pintu yang tertutup dan keheningan yang nyaris mutlak, kerap terpecah oleh gema perang. Namun, di tengah kondisi seperti sekarang ini, iman umat Kristiani tetap bertahan meski rapuh," ujarnya.

Dalam homili ini, ia juga menyebutkan Tuhan tidak memilih jalan untuk menghindari penderitaan, melainkan masuk ke dalam realitas terdalam kehidupan manusia, termasuk rasa sakit dan kematian yang kini kerap dialami akibat kekerasan perang.

Seruan Harapan di Tengah Perang: Paskah Dasar dari Perdamaian

Mengacu pada Injil Matius tentang kubur batu yang terguling oleh malaikat, Kardinal Pizzaballa menekankan, peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus tersebut merupakan inti dari perubahan besar yang mengguncang dunia. Sebuah tindakan Ilahi yang melampaui kekuatan manusia.

Ia pun mengaitkan kisah itu dengan kondisi saat ini, di mana penderitaan akibat perang seolah tak berujung. "Siapa yang akan menggulingkan batu bagi kita?" menjadi pertanyaan mendasar yang, menurutnya, juga bergema di seluruh Yerusalem dan berbagai negara lain di dunia yang dilanda kekerasan.

Jawaban atas pertanyaan itu, lanjutnya, bukan sekadar pernyataan kosong, melainkan kenyataan iman bahwa batu telah terguling oleh kuasa kasih Tuhan yang lebih kuat dari kematian.

Baca Juga: Mengenal Tinnitus, Gangguan Telinga Berdenging yang Patut Diwaspadai

"Setelah kebangkitan, makam kosong bukanlah tanda ketiadaan, melainkan simbol kehidupan yang diperbarui. Luka dan penderitaan tetap ada, namun bukan lagi tanda kekalahan, melainkan bukti kemenangan atas kematian. Yesus membuktikan itu semua," ungkapnya.

Ia menambahkan, Paskah adalah dasar dari setiap upaya perdamaian, bukan sekadar hasil dari usaha manusia. Dengan kubur yang kosong, menurutnya, tidak ada luka yang tak dapat disembuhkan atau konflik yang abadi.

Mengutip pesan Injil “Jangan takut”, ia mengajak umat untuk mengatasi rasa takut dan melihat harapan sebagai langkah nyata, bukan sekadar perasaan.

Di akhir homilinya, Kardinal Pizzaballa menyerukan umat untuk menjadi "batu hidup". Itu simbol rekonsiliasi dan pembawa harapan di tengah konflik saat ini. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Perayaan vigili Paskah #Holy Sepulchre #Yerusalem #Kebangkitan Yesus Kristus #paskah