batampos - Teknologi inframerah yang selama ini identik dengan kebutuhan militer berbiaya tinggi kini berpotensi memasuki pasar sipil secara luas. Terobosan terbaru dari peneliti Tiongkok berhasil memangkas biaya cip inframerah hingga 99 persen.
Inovasi ini membuka peluang penggunaan teknologi tersebut dalam berbagai perangkat sehari-hari, mulai dari kamera smartphone hingga kendaraan otonom.
Selama ini, cip inframerah gelombang pendek atau short-wave infrared (SWIR) dikenal sebagai teknologi berbiaya tinggi dengan kemampuan visual yang melampaui kamera konvensional—mampu beroperasi dalam gelap total serta menembus kabut, asap, dan sebagian material. Karena karakteristik tersebut, penggunaannya terbatas pada pengintaian satelit, drone militer, hingga sistem panduan rudal.
Kendala utamanya terletak pada harga. Selama ini, satu cip SWIR berbasis material indium gallium arsenide (InGaAs) dibanderol dari ratusan hingga ribuan dolar AS, sehingga tidak realistis untuk diadopsi secara luas di sektor sipil. Hambatan biaya inilah yang mendorong upaya pencarian alternatif material dan metode produksi yang lebih efisien.
Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (8/4/2026), tim dari Xidian University menemukan pendekatan baru dengan memanfaatkan silikon-germanium serta proses complementary metal-oxide-semiconductor (CMOS) yang lazim digunakan dalam industri semikonduktor. Pendekatan ini memungkinkan pengurangan biaya secara teoritis hingga 99 persen, atau mendekati USD 10 per unit.
Anggota tim peneliti, Wang Liming, menegaskan signifikansi temuan tersebut. “Ini berarti kami dapat memproduksi detektor inframerah gelombang pendek, yang sebelumnya sangat mahal, menggunakan metode dan basis biaya yang sama seperti pembuatan cip smartphone,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Namun, terobosan ini tidak dicapai tanpa hambatan teknis. Perbedaan struktur kristal antara silikon dan germanium sebesar 4,2 persen berpotensi menimbulkan cacat material. Untuk mengatasinya, tim menambahkan lapisan penyangga (buffer) serta menerapkan perlakuan panas dan teknik kimia guna mencegah kebocoran arus listrik pada cip.
Hasil pengembangan tersebut menunjukkan performa yang kompetitif di tingkat global. Dalam rilis resminya disebutkan bahwa “baik dalam efisiensi deteksi maupun pengendalian noise, pencapaian tim telah mencapai atau bahkan menyamai tingkat paling maju yang ditunjukkan oleh pemimpin industri global seperti Sony, TSMC, dan Artilux.”
Selain itu, tim peneliti juga membangun rantai produksi terintegrasi melalui Hangzhou Institute of Technology dan perusahaan rintisan Zhixin Semiconductor. Fasilitas produksi berbasis silikon-germanium kini tengah disiapkan dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun ini untuk mendukung produksi massal.
Dampak dari inovasi ini meluas ke berbagai sektor sipil. Kendaraan otonom berpotensi meningkatkan keselamatan melalui kemampuan navigasi dalam kondisi visibilitas rendah, kamera ponsel dapat menghasilkan gambar dalam kondisi minim cahaya ekstrem, sementara robot industri dan humanoid mampu beroperasi lebih presisi di lingkungan gelap. Teknologi ini juga memungkinkan inspeksi produk tanpa membuka kemasan.
Pihak universitas menyebut terobosan ini sebagai langkah yang akan “membawa teknologi SWIR dari militer dan laboratorium kelas atas ke penggunaan sipil.” Dengan kata lain, teknologi yang selama ini berada di lingkaran terbatas mulai bergerak menuju pemanfaatan yang lebih luas di sektor komersial.
Di tingkat global, perkembangan ini memperlihatkan arah baru dalam persaingan teknologi, di mana penurunan biaya menjadi faktor penentu adopsi. Dengan estimasi biaya mendekati USD 10 per unit—sekitar Rp 170.500 (kurs Rp 17.050 per dolar AS)—cip inframerah tidak lagi berada di wilayah eksklusif, melainkan mulai bergeser menjadi komponen yang berpotensi digunakan secara massal di berbagai industri. (*)