Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Hasil Awal TKA SMP Tak Jauh dari SMA, Literasi dan Numerasi Masih Jadi PR

jpg • Sabtu, 11 April 2026 | 12:01 WIB
Mendikdasmen Abdul Mu
Mendikdasmen Abdul Mu'ti. (Zalzilatul Hikmia/Jawa Pos)

 

batampos – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengungkapkan hasil sementara Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP menunjukkan capaian yang tidak jauh berbeda dengan hasil TKA SMA sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan Mu’ti dalam acara kolaborasi peningkatan literasi dan numerasi nasional bersama UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation di Jakarta, Kamis (9/4).

Menurutnya, pelaksanaan TKA SMP baru dimulai pekan ini dan akan dilanjutkan untuk jenjang SD pada pekan depan. Meski belum final, hasil awal dari beberapa hari pelaksanaan sudah dapat terlihat.

“Dan ternyata hasil TKA kita, yang tes kemarin sudah diketahui. Hasilnya juga tidak jauh beda dengan yang tes SMA. Matematikanya akan segitu,” ujar Mu’ti.

Sebagai gambaran, nilai TKA SMA tahun ajaran 2025/2026 menunjukkan rata-rata Bahasa Indonesia berada di angka 55,38, sedangkan Matematika 36,10 dari skala 100.

Capaian tersebut sejalan dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, yang menunjukkan kemampuan literasi membaca dan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD.

Dalam laporan tersebut, hanya sekitar 25 persen siswa yang berada di atas rata-rata literasi membaca, dan 18 persen di atas rata-rata matematika.

Meski demikian, Mu’ti menegaskan bahwa hasil TKA SMP saat ini masih bersifat sementara dan akan diumumkan secara resmi setelah seluruh rangkaian tes selesai.

Learning Loss Jadi Tantangan

Mu’ti mengakui bahwa persoalan literasi dan numerasi masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama akibat dampak learning loss pascapandemi COVID-19.

Ia menegaskan, pemerintah tengah menyiapkan berbagai kebijakan untuk merespons kondisi tersebut, mulai dari peningkatan kompetensi guru hingga membangun kembali budaya membaca di kalangan siswa.

“Tentu bahan bacaan tidak harus selalu berupa buku. Bisa koran, majalah, atau apa pun yang mendorong anak untuk terbiasa membaca,” jelasnya.

Menurutnya, literasi dan numerasi merupakan kemampuan dasar yang sangat penting dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Ia juga menyoroti bahwa pembelajaran tidak boleh hanya berfokus pada hafalan, melainkan harus menekankan pemahaman dan logika.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menekankan pentingnya peran guru dalam memastikan siswa menguasai keterampilan dasar tersebut.

Melalui kolaborasi dengan Kemendikdasmen, Gates Foundation, dan UNICEF, program penguatan pembelajaran akan difokuskan pada peningkatan praktik mengajar berbasis data asesmen siswa.

Program ini akan melibatkan enam daerah, yakni Kabupaten Tegal, Kota Medan, Kota Pematang Siantar, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Ende, dengan target sekitar 500 sekolah dasar dan 1.500 guru kelas awal. (*)

Editor : Jamil Qasim
#TKA SMP #Literasi dan Numerasi