Batampos - Iran memasuki pembicaraan damai berisiko tinggi dengan Amerika Serikat (AS) akhir pekan ini dengan posisi tawar yang lebih kuat dibanding sebelumnya, setelah berhasil menguasai Selat Hormuz.
Jalur laut sepanjang sekitar 100 mil tersebut merupakan rute utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Dengan kendali atas jalur ini, Iran kini memiliki kemampuan menentukan kapal mana yang boleh melintas, sekaligus berpotensi mengguncang pasar energi global.
Pembicaraan damai antara Iran dan AS dimulai Sabtu (11/4/2026) waktu setempat hari ini, menjadi upaya kedua negara dalam mengubah gencatan senjata dua pekan menjadi kesepakatan damai jangka panjang.
Ada pun salah satu tuntutan utama AS adalah pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz tersebut tanpa hambatan.
Baca Juga: Kupang Jemput Pasar Global dari Batam, Jalankan City branding di simpul ekonomi regional
Sebelumnya, Iran membatasi lalu lintas kapal dan bahkan dilaporkan mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS bagi setiap kapal yang melintas. Langkah ini pun memicu lonjakan harga energi global selama satu bulan berjalan.
Presiden AS, Donald Trump mengirim sinyal beragam terkait kebijakan tersebut. "Pungutan itu ilegal," ujar Trump seperti dikutip dari USA Today, sore ini.
Namun meski begitu, di sisi lain, Trump membuka kemungkinan kerja sama dengan Iran untuk mengelola jalur tersebut.
Fokus pembicaraan pun kini bergeser, dari isu nuklir Iran menjadi upaya membuka kembali jalur distribusi energi dunia yang krusial lewat kerjasama pengelolaan Selat Hormuz. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak