Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Survei Proyek KPBU Pembangunan dan Pengelolaan Estuary Dam Tak Disosialisasikan, Ini Kata Warga

Slamet Nofasusanto • Sabtu, 2 November 2024 | 16:00 WIB

Pertemuan antara PT. Moya dan masyarakat desa kelurahan di aula kantor Camat Teluk Bintan pada Jumat (1/11/2024).
Pertemuan antara PT. Moya dan masyarakat desa kelurahan di aula kantor Camat Teluk Bintan pada Jumat (1/11/2024).
batampos- Masyarakat desa kelurahan di Kecamatan Teluk Bintan merasa kecewa karena pelaksanaan survei proyek KPBU pembangunan dan pengelolaan estuary dam di Kecamatan Teluk Bintan dan Pengembangan SPAM, tidak disosialisasikan.

Hal ini terungkap saat pertemuan perwakilan PT. Moya dengan masyarakat yang difasilitasi Polsek Teluk Bintan di aula kantor Camat Teluk Bintan pada Jumat (1/11/2024).

Seorang warga Yadi mengatakan, tidak pernah diberi tahu kegiatan yang dilaksanakan di desa mereka.

"Kami tidak dikasih tahu, jadi kami dianggap apa? Lain kali kalau ada program seperti ini, tolong kami masyarakat kecil diberi tahu. Kami tidak minta dihargai atau dihormati, cuma dikasih tahu. Janganlah masyarakat kecil, dikecilkan lagi," katanya.

Kades Penaga, Hamrudin menyayangkan, proyek PSN ini tidak disampaikan sehingga menimbulkan polemik di masyarakat.

"Harusnya ada sosialisasi," katanya.

Karena program ini masuk dalam PSN, dia memperkirakan akan tetap dilaksanakan.

Namun dia meminta masyarakat terdampak seperti nelayan harus diperhatikan.

"Masyarakat seperti nelayan bukan terdampak lagi, tapi bisa kehilangan pekerjaan. Kalau mau dipindahkan, apa bisa masyarakat bekerja di tempat lain karena masyarakat di sini sebagian besar nelayan," katanya.

Dia meminta proyek ini dikaji lebih dalam dan melibatkan masyarakat setempat.

"Jangan sampai pemerintah memutuskan sepihak, dikhawatirkan masyarakat menolak. Jadi, apapun proyek pemerintah dapat berjalan dengan baik, tidak memiskinkan masyarakat tapi bagaimana masyarakat bisa tetap sejahtera," harapnya.

Kades Tembeling, Abdullah mengharapkan, proyek yang dibangun memberi nilai tambah bagi masyarakat setempat.

"Informasi yang diterima akan dibuat dam, masyarakat takut karena dampaknya, pertama masyarakat akan kehilangan pekerjaan dan kedua dikhawatirkan banjir," katanya.

Warga lain, Rahmat mengatakan, infonya akan dibuat dam. Dia hanya meminta kegiatan yang dilakukan disosialisasikan ke masyarakat.

Masyarakat lain juga menyampaikan tidak mau direlokasi ke daerah lain akibat pembangunan dam dan ada yang meminta agar pelaksanaan survei dihentikan sampai ada sosialisasi dari pemerintah.

Kapolsek Teluk Bintan, Iptu Suriya mengatakan, pihaknya hanya memfasilitasi pertemuan ini sehingga masyarakat tahu tujuan dari kegiatan yang dilaksanakan PT. Moya.

"Saya di sini netral, saya ingin warga bisa berkomunikasi langsung dengan pihak Moya," tegasnya.

"Saya tidak mau terjadi benturan terkait masalah ini. Saya tidak mau terjadi macam Rempang Galang," ujarnya.

Perwakilan PT. Moya, Vera menyampaikan, maaf karena belum permisi dengan masyarakat. Tapi,

penelitian dan study yang dilakukan untuk melihat kelayakan program strategi nasional (PSN) dari Kementerian PUPR dalam penyediaan air bersih di Pulau Bintan, telah mendapat izin dari pemerintah daerah.

"Secara formal, penelitian ini sudah mendapat izin dari pemerintah. Kami sudah bertemu dan berkomunikasi dengan gubernur, Pemkab dan Pemko," katanya.

Dia menjelaskan, penelitian yang dilakukan mulai pengumpulan data dan sampel tanah di Desa Pengujan, Desa Penaga dan Kelurahan Tembeling Tanjung.

"Kita hanya mengambil sample, tidak melakukan konstruksi dan ditargetkan pelaksanaan survei selesai akhir Desember 2024," ujarnya.

Selanjutnya, katanya, hasil survei akan disampaikan ke gubernur,  bupati dan wali kota. Setelah itu, pihaknya akan menemui masyarakat.

"Proyek ini akan membawa berkah dan riziki bagi masyarakat," pungkasnya. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#estuary dam