LAM Batam Usulkan 24 Nama Baru Simpang dan Bundaran, Angkat Identitas Melayu

batampos – Lembaga Adat Melayu Kota Batam mengusulkan pergantian nama 24 simpang dan bundaran di berbagai wilayah Kota Batam kepada Pemerintah Kota Batam dan BP Batam.
Usulan tersebut diajukan agar identitas ruang publik di Batam lebih mencerminkan budaya dan sejarah Melayu sebagai jati diri daerah.
Ketua LAM Kota Batam, Raja Muhammad Amin, mengatakan pergantian nama difokuskan pada sejumlah simpang dan bundaran yang dinilai paling mendesak untuk diubah, terutama nama-nama yang berkembang di masyarakat namun dianggap kurang pantas serta tidak mencerminkan budaya Melayu.
“Banyak nama simpang yang diberi masyarakat dengan nama-nama kurang baik. Seperti simpang di Bengkong atau Aljabar yang dikenal dengan sebutan tidak pantas,” ujar Raja kepada Batam Pos, Rabu (13/5).
Menurutnya, istilah tersebut kemungkinan muncul dari kebiasaan masyarakat atau situasi lalu lintas di kawasan itu yang semrawut hingga memicu pengendara saling melontarkan kata-kata kasar.
“Mungkin karena kondisi lalu lintasnya semrawut, pengendara saling maki. Akhirnya nama itu melekat. Itu tidak baik. Maka kami usulkan diganti dengan nama yang sesuai budaya Melayu,” katanya.
Untuk kawasan Bengkong tersebut, LAM Batam mengusulkan nama baru yakni Simpang Junjung Budaya.
Raja menjelaskan nama itu dipilih karena memiliki makna luas, bukan hanya soal budaya Melayu, tetapi juga budaya tertib dalam kehidupan sosial, termasuk budaya berlalu lintas.
“Budaya itu juga berkaitan dengan budaya lalu lintas. Junjung budaya maknanya semua budaya kita dijunjung. Melayu sebagai payung negeri dan budaya lain ikut bersama menjaga,” ujarnya.
Usulkan Nama Tokoh Melayu dan Warisan Budaya
Selain mengganti nama yang dianggap kurang pantas, LAM Batam juga mengusulkan sejumlah nama tokoh sejarah Melayu Kepulauan Riau hingga tokoh Batam untuk dijadikan identitas simpang dan bundaran.



