batampos- Politeknik Bintan Cakrawala (PBC) mengelar Workshop Kreasi Warna Alami Mangrove pada 21 hingga 23 November 2025 di Rumah Batik Bintan, Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong.
Workshop ini memadukan seni batik, konservasi mangrove, dan eksperimen warna alami.
Kegiatan ini juga membahas pengelolaan limbah dan pemasaran produk pewarna alami, sebagai bagian dari riset "Wisata Edukasi Bahari dan Pengembangan Produk Mangrove Ramah Lingkungan" yang didanai LPDP tahun 2024.
Mahasisws D3 Perjalanan Wisata PBC terlibat langsung dalam workshop ini, mereka mempelajari teknik pewarnaan alami, pengolahan limbah, dan pemasaran produk.
Mereka diajak menyelami ekosistem mangrove, mempelajari fungsi ekologisnya dalam menjaga pesisir, dan potensi mangrove sebagai bahan pewarna alami ramah lingkungan.
Selama tiga hari, mereka belajar fungsi mangrove, motif cap, mengecap kain, pewarnaan kain kecil, teknik mencanting kain besar, pewarnaan, fiksasi, melorot kain, fiksasi kain besar, pewarnaan kombinasi, perawatan batik, pengemasan, dan pemasaran.
Hasil riset inisiasi eksperimen pewarnaan alami dari limbah propagule rizhophora Bintan.
Pemilik Eriani Dewi Batik, Sylvia Eriana menjadi narasumber di Workshop Pewarna Alami.
Ia membagikan ilmunya tentang pewarna alami dari limbah propagule.
Propagule dikombinasikan dengan tanaman lokal Bintan seperti ketapang, akasia, dan kulit akasia untuk menciptakan warna alami yang unik.
Sylvia menekankan potensi ekonomi besar dari batik.
"Batik itu menghasilkan banyak cuan. Kalian masih muda, jangkauannya panjang. Sedikit saja usaha kalian, kalau dikembangkan, kalian bisa jadi bos dari karya sendiri," katanya.
Peserta dari Desa Berakit, Sita mengaku mendapatkan pengalaman baru yang berharga.
Sebelumnya dia belum pernah ikut kegiatan pewarnaan alami.
Dari hari pertama sampai hari kedua hasilnya sudah terlihat dan sangat berharga bagi dia.
Mangrove Bintan Lestari, Nita menyampaikan apresiasinya.
"Tidak semua orang bisa mengikuti workshop ini. Kita belajar bahwa mangrove bukan hanya penting bagi biota laut, tetapi juga bisa memberdayakan masyarakat sekitar," ujarnya.
Acara ditutup dengan suasana hangat saat sertifikat diberikan dan peserta berfoto bersama narasumber dan mitra.
Peserta pulang membawa karya batik dan pemahaman bahwa mangrove bisa jadi sumber inovasi dan peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat Bintan. (*)
Editor : Tunggul Manurung