Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Pilu, Pasangan Lansia di Bintan Cicil Tagihan Air PDAM Tirta Kepri dari Jualan Pecel

Slamet Nofasusanto • Selasa, 9 Juni 2026 | 21:30 WIB
Sakti Indrawan menemani istrinya Endang Sriwahyuni berjualan lontong pecel di RT 004 RW 009 Kampung Jeruk, Tanjunguban, Selasa (9/6/2026) siang. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos
Sakti Indrawan menemani istrinya Endang Sriwahyuni berjualan lontong pecel di RT 004 RW 009 Kampung Jeruk, Tanjunguban, Selasa (9/6/2026) siang. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos

Batampos - Kenaikan tagihan air yang tidak wajar dialami pasangan lanjut usia (lansia) di Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara. 

Sakti Indrawan, 76, dan istrinya, Endang Sriwahyuni, 66, kaget bukan main ketika tagihan air PDAM Tirta Kepri pemakaian Mei 2026 melonjak jadi sekitar Rp 711.400. 

Padahal, beberapa bulan sebelumnya, tagihan air mereka hanya Rp 56 ribu hingga Rp 70 ribu setiap bulan.

Sakti baru mengetahui lonjakan tagihan saat hendak membayar di kantor PDAM Tirta Kepri Cabang Tanjunguban, Jalan Bhakti Praja. 

Baca Juga: Mengapa Susu Tak Lagi Muncul di Menu Makan Bergizi Gratis? Ini Penjelasan SPPG Batam

Pasangan yang sudah puluhan tahun menempati rumah di RT 004 RW 009 Kampung Jeruk, Tanjunguban itu hanya tinggal berdua. 

"Kalau ada kebocoran pasti sudah banjir rumah kami. Pipa kami di atas tanah, kelihatan kalau pecah. Tapi ini tidak," ujarnya.

Mendengar besaran tagihan, ia mengaku tidak sanggup membayar sekaligus. 

Petugas kemudian menawarkan pembayaran dengan dicicil. 

"Saya hanya sanggup mencicil Rp 25 ribu sebulan, tapi katanya terlalu lama. Tapi itulah kemampuan saya. Kami tidak bekerja, hanya mengharapkan jualan pecel," katanya. 

Baca Juga: Parkir Pelabuhan Bulang Linggi Bintan Terbatas, Dishub: Sudah Difasilitasi Parkir Bus Wisata

Petugas menolak nominal cicilan tersebut. Akhirnya Sakti membayar dengan mencicil pertama sekitar Rp 100 ribu dari uang yang dibawanya untuk membayar air pemakaian bulan Mei 2026. 

Petugas juga sempat mengecek meteran air di rumahnya. "Katanya masih bagus, tapi saya kan orang awam, tidak tahu mana bagus mana tidak," katanya.

Sakti berharap, PDAM memberi keringanan apalagi sebelumnya dia tidak pernah terlambat membayar tagihan.

Istri Sakti Indrawan, Endang Sriwahyuni, 66, mengaku pusing memikirkan tagihan air tersebut. 

Dari jualan lontong pecel, pendapatan bersihnya hanya sekitar Rp 30 hingga Rp 40 ribu per hari. 

"Kalau banyak pembeli bisalah dapat Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu per hari, tapi kita buat makan dulu," katanya. 

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku lelah. 

"Capek jualan pecel, ngumpulin sedikit demi sedikit untuk makan sekarang harus bayar tagihan air yang (nominalnya) besar," pungkasnya 

Kepala Cabang PDAM Tirta Kepri Tanjunguban, Sugito mengatakan, petugas sudah mengecek meteran dan hasilnya tagihan sesuai pemakaian. 

"Memang pemakaiannya segitu," katanya. 

Baca Juga: Polisi Dalami Dugaan Masalah Ekonomi di Balik Tewasnya Karyawan Treasure Bay Lagoi

Menurutnya, ada kelalaian dari pelanggan sehingga tagihan air membengkak. 

"Alasan pelanggan pemakaian sedikit tapi terkadang ada kelalaian pelanggan, entah lupa tutup," katanya. 

Sugito menyebut, untuk pemakaian bulan Juni pelanggan tersebut sudah normal, hanya 7 kubik. 

"Bulan Juni pemakaiannya sudah, hanya 7 kubik. Jadi bulan depan dia hanya bayar sekitar Rp 50 ribu lebih," katanya. 

Ia menyarankan tagihan Rp 711 ribu dicicil. "Berapa sanggupnyalah, dicicil, yang penting punya niat membayar," katanya. 

Ia juga mengimbau pelanggan PDAM menghemat penggunaan air. 

"Setelah tak dipakai, sebaiknya ditutup, jangan sampai lupa, kalau lupa bisa membengkak tagihan," pungkasnya. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#pasangan lansia bintan #Tagihan Air #PDAM Tirta Kepri #kisah hidup