Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Ekonom Kritik Santainya Presiden Prabowo Respons Pelemahan Rupiah

JawaPos • Minggu, 17 Mei 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. (Dok. JawaPos.com)
Ilustrasi rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. (Dok. JawaPos.com)

batampos – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai bukan persoalan sepele. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengingatkan dampak depresiasi rupiah akan langsung dirasakan masyarakat, termasuk warga di pedesaan.

Pernyataan itu disampaikan Bhima menanggapi komentar Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut Bhima, pandangan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi nasional. Ia menilai pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS berpotensi memicu kenaikan biaya hidup di berbagai sektor.

Baca Juga: Presiden Prabowo Sebut Koperasi Merah Putih Mampu Atasi Masalah Petani

“Itu Prabowo kayaknya perlu dibriefing soal ekonomi dasar,” ujar Bhima kepada JawaPos.com, Sabtu (16/5).

Bhima menjelaskan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih terhubung dengan pasar global dibandingkan masa krisis 1998. Karena itu, dampak gejolak nilai tukar dan kenaikan harga energi dunia akan lebih cepat dirasakan masyarakat.

Menurut dia, subsidi energi seperti BBM dan LPG memang masih mampu meredam lonjakan harga untuk sementara waktu. Namun tekanan tersebut dinilai tidak akan bertahan lama jika rupiah terus melemah.

“Sekarang semua seolah bisa ditahan dengan subsidi BBM dan LPG. Tapi kalau tekanan kurs terus terjadi, dampaknya tetap akan terasa,” katanya.

Baca Juga: Prabowo Puji Mentan Amran, Target Swasembada 4 Tahun Tercapai dalam 1 Tahun

Bhima menilai pelemahan rupiah akan memicu efek berantai terhadap harga LPG, pupuk, hingga bahan kebutuhan pokok. Sebab, banyak komponen barang dan bahan baku di Indonesia masih bergantung pada impor.

“Maka transmisi dari krisis energi global dan pelemahan rupiah ini bisa berdampak besar terhadap harga LPG dan kebutuhan pokok masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa masyarakat desa tidak terdampak fluktuasi dolar AS. Menurutnya, warga di pedesaan tetap menggunakan berbagai produk yang memiliki keterkaitan dengan impor, mulai dari telepon genggam, kendaraan bermotor, hingga peralatan elektronik rumah tangga.

Selain itu, sektor pertanian juga dinilai rentan terkena dampak pelemahan rupiah, terutama terkait harga pupuk dan biaya produksi.

Baca Juga: Arogan, Trump Klaim Dapat Hancurkan Infrastruktur Iran

“Pupuk di sentra pertanian juga bisa terdampak kalau rupiah terus melemah. Tinggal menunggu waktu sampai harga-harga itu menekan masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menanggapi santai pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Dalam sambutannya di Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo mengatakan masyarakat desa tidak menggunakan dolar secara langsung sehingga tidak perlu terlalu panik menghadapi fluktuasi kurs. (*)

Editor : M Tahang
#Kebutuhan Pokok #pelemahan rupiah #LPG 3 kg