batampos – Kinerja perdagangan luar negeri Kota Batam menunjukkan tren positif pada awal 2026. Nilai ekspor Batam sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai US$6,39 miliar atau tumbuh 1,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$6,31 miliar.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya ekspor sektor nonmigas yang masih menjadi tulang punggung perdagangan luar negeri Batam.
“Ekspor nonmigas Januari-April 2026 mencapai US$6,13 miliar atau naik 1,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya, Jumat (5/6).
Ekspor April Naik 7,65 Persen
Secara bulanan, nilai ekspor Batam pada April 2026 mencapai US$1,71 miliar atau meningkat 7,65 persen dibandingkan April 2025.
Kenaikan terjadi pada sektor nonmigas maupun migas. Ekspor nonmigas tercatat sebesar US$1,62 miliar atau tumbuh 6,33 persen, sedangkan ekspor migas melonjak 40,04 persen menjadi US$86,71 juta.
Komoditas ekspor Batam masih didominasi produk manufaktur berteknologi tinggi. Selama Januari-April 2026, kelompok mesin dan peralatan listrik (HS 85) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor mencapai US$3,27 miliar atau berkontribusi 53,27 persen terhadap total ekspor nonmigas.
Posisi berikutnya ditempati mesin dan pesawat mekanik (HS 84) sebesar US$779,13 juta, berbagai produk kimia (HS 38) senilai US$335,29 juta, benda-benda dari besi dan baja (HS 73) sebesar US$313,49 juta, serta minyak dan lemak hewan atau nabati (HS 15) senilai US$307,04 juta.
Selain itu, perangkat optik, tembakau, kakao, kapal laut, dan bahan kimia organik juga memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor Batam.
Sementara di sektor perikanan, ekspor golongan ikan dan udang (HS 03) mencatat pertumbuhan positif dengan nilai mencapai US$6,87 juta atau meningkat 34,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Amerika Serikat Jadi Pasar Utama
Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor produk Batam. Selama Januari-April 2026, nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$1,68 miliar atau berkontribusi 26,21 persen terhadap total ekspor Batam.
Nilai tersebut meningkat 10,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Khusus pada April 2026, ekspor Batam ke Amerika Serikat mencapai US$458,88 juta atau tumbuh 26,04 persen dibandingkan April tahun lalu.
Setelah Amerika Serikat, tujuan ekspor terbesar berikutnya adalah Singapura dengan nilai US$1,49 miliar atau menyumbang 23,33 persen dari total ekspor Batam.
Negara tujuan utama lainnya meliputi India, Tiongkok, Jepang, Australia, Filipina, Jerman, Malaysia, dan Belanda.
Sepuluh negara tersebut menyerap sekitar 81,62 persen total ekspor Batam.
Batu Ampar Jadi Gerbang Utama Ekspor
Dari sisi pelabuhan, Pelabuhan Batu Ampar masih menjadi pintu utama ekspor Batam dengan nilai mencapai US$4,37 miliar selama Januari-April 2026.
Selanjutnya disusul Pelabuhan Sekupang sebesar US$1,01 miliar, Pelabuhan Kabil sebesar US$633,91 juta, Pelabuhan Belakang Padang sebesar US$265,63 juta, serta Bandara Hang Nadim sebesar US$94,05 juta.
Kelima pintu keluar tersebut menyumbang sekitar 99,75 persen total nilai ekspor Batam.
Impor Tumbuh Lebih Tinggi
Di sisi lain, aktivitas impor Batam tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Selama Januari-April 2026, nilai impor mencapai US$6,19 miliar atau meningkat 12,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada April 2026, impor Batam tercatat sebesar US$1,67 miliar atau naik 11,25 persen dibandingkan April 2025.
Kenaikan tersebut terutama didorong lonjakan impor migas sebesar 129,32 persen dan pertumbuhan impor nonmigas sebesar 10,65 persen.
Menurut Eko, tingginya impor menunjukkan aktivitas industri manufaktur Batam masih sangat kuat karena bergantung pada bahan baku dan komponen impor untuk kebutuhan produksi ekspor.
Komoditas impor terbesar masih didominasi kelompok mesin dan peralatan listrik (HS 85) dengan nilai mencapai US$2,81 miliar atau 45,59 persen dari total impor nonmigas.
Dari sisi negara asal, Tiongkok menjadi pemasok terbesar dengan nilai impor mencapai US$2,82 miliar atau berkontribusi 45,49 persen terhadap total impor Batam.
Posisi berikutnya ditempati Singapura, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Jerman, dan Inggris.
“Struktur perdagangan Batam masih menunjukkan karakter sebagai kawasan industri berorientasi ekspor. Tingginya impor bahan baku dan komponen menjadi penopang utama aktivitas produksi yang kemudian diekspor ke berbagai negara,” kata Eko.
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan sektor industri manufaktur Batam masih mampu menjaga kinerja ekspor di tengah dinamika perdagangan global, dengan Amerika Serikat tetap menjadi pasar utama dan Tiongkok sebagai sumber pasokan bahan baku terbesar bagi industri di kawasan tersebut. (*)
Editor : Putut Ariyo