batampos – Produksi ikan air tawar di Kota Batam terus mengalami peningkatan. Hingga Mei 2026, produksi ikan konsumsi dari pembudidaya lokal mencapai 2.841,608 ton dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah semakin menurun.
Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengatakan ikan lele masih menjadi komoditas dengan produksi terbesar, disusul ikan patin dan nila.
“Produksi ikan air tawar terbesar di Batam saat ini masih didominasi lele, kemudian nila dan patin. Ini menunjukkan budidaya ikan air tawar di Batam berkembang cukup baik dan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat,” ujar Yudi, Senin (22/6).
Berdasarkan data Dinas Perikanan Kota Batam, produksi ikan air tawar hingga Mei 2026 terdiri dari ikan lele sebanyak 1.442,348 ton, patin 860,343 ton, nila 465,474 ton, serta gurame 73,443 ton.
Baca Juga: BGN Bersih-Bersih Anggaran, Janji Tak Ulangi Belanja Tak Berguna di 2026
Peningkatan produksi tersebut tidak terlepas dari berkembangnya sentra budidaya ikan air tawar di sejumlah wilayah Batam, seperti Tembesi, Sungai Beduk, Marina, hingga Galang.
Dari sejumlah kawasan tersebut, Kecamatan Galang masih menjadi daerah dengan produksi ikan air tawar terbesar. Pada triwulan pertama 2026, produksi ikan air tawar di wilayah tersebut mencapai 525,366 ton.
Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan Kecamatan Sagulung yang mencatat produksi 280,291 ton dan Kecamatan Batuaji sebesar 267,122 ton.
“Sentra budidaya memang tersebar di beberapa wilayah, tetapi produksi terbesar masih berada di Galang. Kawasan tersebut memiliki lahan yang cukup luas sehingga aktivitas budidaya berkembang lebih optimal,” jelas Yudi.
Menurutnya, peningkatan produksi dalam beberapa tahun terakhir membuat Batam semakin mampu memenuhi kebutuhan ikan air tawar konsumsi masyarakat secara mandiri.
Berbagai komoditas seperti lele, nila, patin, hingga gurame kini sebagian besar dipasok oleh pembudidaya lokal Batam. Kondisi ini berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika kebutuhan ikan konsumsi masih banyak bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Saat ini Batam sudah relatif mandiri untuk kebutuhan ikan air tawar konsumsi. Pasokan utama berasal dari pembudidaya lokal, bukan lagi bergantung pada kiriman dari luar daerah,” kata Yudi.
Selain memperkuat ketahanan pangan daerah, peningkatan produksi ikan air tawar juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat, terutama para pembudidaya yang tersebar di berbagai kecamatan.
Dinas Perikanan Kota Batam optimistis sektor budidaya ikan air tawar akan terus berkembang dan menjadi salah satu sektor strategis dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. (*)
Editor : Putut Ariyo