Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kementerian ESDM Proyeksikan Harga Minyak Mentah Indonesia Turun pada Juli 2026

jpg • Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:31 WIB
Ilustrasi eksplorasi migas lepas pantai. (Istimewa)
Ilustrasi eksplorasi migas lepas pantai. (Istimewa)

batampos – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) pada Juli 2026 kembali mengalami penurunan seiring membaiknya pasokan minyak dunia dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan ICP Juli diperkirakan berada pada kisaran 67 hingga 71 dolar AS per barel, lebih rendah dibandingkan ICP Juni 2026 yang ditetapkan sebesar 83,45 dolar AS per barel.

Menurut Laode, realisasi harga minyak mentah Indonesia masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan pasar global, keseimbangan pasokan dan permintaan, serta dinamika geopolitik internasional.

"Pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional tetap terjaga. Kami memastikan formula ICP tetap transparan dan mencerminkan dinamika pasar internasional sehingga tetap akuntabel bagi keuangan negara maupun kegiatan usaha hulu migas," ujar Laode dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7).

Ia menjelaskan, pemerintah akan terus menjadikan perkembangan pasokan, permintaan, serta kondisi geopolitik sebagai dasar evaluasi ICP pada periode berikutnya.

"Perubahan ketiga faktor tersebut akan menentukan arah harga minyak mentah Indonesia sepanjang Juli 2026," katanya.

Pasokan Global Meningkat

Laode menyebut penurunan harga minyak dipengaruhi meredanya ketegangan di Timur Tengah, termasuk adanya gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap yang memperlancar distribusi minyak dunia.

Selain faktor geopolitik, kondisi fundamental pasar juga memberi tekanan terhadap harga minyak.

Berdasarkan proyeksi International Energy Agency (IEA), permintaan minyak dunia diperkirakan tumbuh sekitar 1,1 juta barel per hari (bph). Di sisi lain, kelompok OPEC+ kembali meningkatkan produksi minyak untuk memenuhi target pasokan pada 2026.

Rusia juga berencana menaikkan produksi minyak sesuai kesepakatan OPEC+, sehingga pasokan global diperkirakan semakin melimpah.

Kombinasi meningkatnya pasokan dan pertumbuhan permintaan yang lebih moderat diperkirakan akan terus menekan harga minyak dunia dalam jangka pendek.

Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai potensi eskalasi konflik baru yang dapat mengganggu produksi minyak global. Sebaliknya, apabila pasokan dari kawasan Timur Tengah terus meningkat setelah pembukaan Selat Hormuz, harga minyak berpotensi kembali melemah. (*)

Editor : Jamil Qasim
minyak mentah naik Kementerian ESDM