batampos – Derasnya arus investasi ke Batam membuka ruang pertumbuhan bagi dunia usaha. Namun, masuknya modal dalam jumlah besar dinilai tidak cukup hanya dilihat sebagai peluang untuk memperbesar bisnis.
Pelaku usaha juga dituntut mampu membaca perubahan lingkungan bisnis, membangun kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan, serta menyiapkan generasi penerus agar keberlangsungan usaha tetap terjaga.
Pesan tersebut disampaikan tokoh senior Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Asman Abnur, saat bertemu jajaran Dewan Pengurus Kadin Kota Batam di Laboratorium Barista Batam Tourism Polytechnic (BTP), Rabu (9/9).
Pertemuan itu membahas sejumlah persoalan strategis dunia usaha. Mulai dari kemampuan membaca peluang bisnis, memperkuat sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan, hingga pentingnya regenerasi pengusaha.
Asman yang juga pengusaha nasional dan CEO VITKA Group mengingatkan pelaku usaha agar tidak terlambat merespons perubahan.
Menurut dia, dinamika ekonomi yang terus bergerak menuntut pengusaha lebih adaptif dalam menangkap peluang sekaligus mengantisipasi berbagai tantangan.
"Pengusaha harus jeli melihat berbagai peluang dan tantangan dalam bisnis, khususnya di Kota Batam," kata Asman.
Kadin Diminta Perkuat Sinergi Dunia Usaha dan Pemerintah
Asman mengatakan dunia usaha tidak dapat berjalan sendiri. Kadin sebagai wadah bersama para pengusaha perlu terus memperkuat hubungan dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.
Menurut dia, sinergi tersebut penting untuk menciptakan iklim usaha dan investasi yang sehat. Kolaborasi juga dapat membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan sekaligus mengembangkan bisnis.
Di tengah persaingan yang semakin dinamis, pengusaha tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan internal perusahaan. Akses terhadap jaringan, informasi, kebijakan, dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing.
Regenerasi Pengusaha Jadi Tantangan
Selain membaca peluang dan membangun kolaborasi, Asman menyoroti persoalan regenerasi yang dinilai tidak kalah penting.
Dunia usaha membutuhkan pengusaha baru yang bukan hanya berani memulai bisnis, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya di tengah persaingan.
"Karena itu, pengusaha muda perlu diberi ruang, kesempatan, pendampingan, dan akses terhadap jaringan bisnis," ujarnya.
Asman menilai regenerasi tidak seharusnya baru dipikirkan ketika generasi sebelumnya mulai meninggalkan dunia usaha. Proses menyiapkan estafet kepemimpinan bisnis harus dilakukan sejak dini.
Dengan demikian, keberlanjutan perusahaan sekaligus ekosistem usaha dapat tetap terjaga dalam jangka panjang.
Pendidikan Vokasi Harus Mengikuti Kebutuhan Industri
Gagasan mengenai regenerasi tersebut juga berkaitan dengan kiprah Asman di sektor pendidikan. Ia merupakan pendiri BTP dan Institut Teknologi Batam (ITEBA), yang diarahkan untuk menjembatani kebutuhan sumber daya manusia dengan perkembangan industri.
Menurut Asman, pendidikan vokasi harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan dunia industri.
Lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah. Mereka juga harus menguasai kompetensi dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri menjadi penting bagi Batam yang memiliki struktur ekonomi berbasis industri dan menjadi salah satu tujuan investasi utama di Indonesia.
Investasi Batam Capai Rp38,97 Triliun
Dorongan kepada pengusaha untuk lebih jeli membaca peluang disampaikan ketika Batam tengah mencatat arus investasi yang cukup besar.
Berdasarkan metode bottom-up yang digunakan Badan Pengusahaan (BP) Batam, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp38,97 triliun.
Angka tersebut setara dengan sekitar 55,67 persen dari target investasi Batam sepanjang 2026 yang dipatok sebesar Rp70 triliun.
Besarnya investasi yang masuk menunjukkan geliat ekonomi Batam. Namun, nilai investasi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai kekuatan perekonomian daerah.
Dampak investasi terhadap aktivitas ekonomi, produktivitas, lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi juga perlu diperhatikan.
Investasi Bukan Satu-satunya Penentu Pertumbuhan Ekonomi
Guru Besar Politeknik Negeri Batam, Profesor Dwi Kartika Sari, mengatakan investasi merupakan salah satu komponen dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) maupun produk domestik regional bruto (PDRB).
"Belum tentu (kuat). Investasi hanya salah satu komponen pembentuk PDB/PDRB, bersama-sama dengan konsumsi, ekspor, impor, pengeluaran pemerintah, dan produktivitas," ujar Dwi kepada Batam Pos, Selasa (1/9).
Menurut profesor pertama di kampus vokasi Batam tersebut, indikator pertumbuhan ekonomi yang umum digunakan antara lain nilai PDB secara nominal, pertumbuhan PDB tahunan, dan PDB per kapita.
Dengan demikian, indikator utama pertumbuhan ekonomi tetap mengacu pada PDB atau PDRB, sementara investasi merupakan salah satu komponen pembentuknya.
Dalam konteks perekonomian Indonesia secara umum, investasi merupakan komponen penting dalam pembentukan PDB. Namun, karakter ekonomi Batam memiliki kekhasan karena investasi memegang peranan besar dalam pembentukan PDRB daerah.
Posisi tersebut membuat investasi memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian Batam. Meski demikian, efektivitas dan efisiensi investasi menjadi faktor penting agar modal yang masuk benar-benar menghasilkan dampak ekonomi.
"Artinya, apabila investasinya efektif dan efisien, maka besar kemungkinan pertumbuhan ekonomi lokal Batam akan kuat," kata Dwi. (*)
Editor : Putut Ariyo