Investasi Korea Selatan di Batam Melonjak 4.169 Persen,

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:56 WIB
Anggota/Deputi Bidang Investasi Fary Djemy Francis
Anggota/Deputi Bidang Investasi Fary Djemy Francis

batampos - Investasi Korea Selatan di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), melonjak tajam pada semester I 2026. Berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi dari Negeri Ginseng itu mencapai Rp1,175 triliun atau sekitar 65,1 juta dolar AS.

Nilai tersebut meningkat 4.169,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Realisasi investasi semester I 2026 itu juga setara 34,1 kali lipat dari total investasi Korea Selatan sepanjang 2025 yang tercatat Rp34,41 miliar.

Capaian ini menempatkan Korea Selatan sebagai investor asing terbesar ketiga di Batam, dengan kontribusi 6,60 persen terhadap total penanaman modal asing (PMA).

Momentum tersebut dimanfaatkan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk menjajaki peluang investasi baru melalui South Korea Aero Summit 2026 dan pertemuan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, Korea Selatan, Rabu (21/10/2026).

Delegasi BP Batam dipimpin Anggota/Deputi Bidang Investasi Fary Djemy Francis, didampingi Anggota/Deputi Bidang Administrasi dan Keuangan Alexander Zulkarnain serta Direktur Badan Usaha Kawasan Bandara BP Batam Kurnia Budi.

BP Batam Bidik Investasi Penerbangan dan MRO

Dalam South Korea Aero Summit yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2026, Fary memperkenalkan peluang investasi di industri penerbangan, perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO), kargo udara, serta industri pendukung Bandara Internasional Hang Nadim.

“Landasan pacu harus menjadi landasan tumbuhnya investasi dan kesejahteraan,” ujar Fary.

Menurutnya, pengembangan Hang Nadim perlu terintegrasi dengan kawasan industri dan rantai pasok global. Kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan kepercayaan investor juga menjadi faktor penting untuk menarik investasi berkelanjutan.

Pergeseran sektor investasi Korea Selatan turut menjadi peluang bagi Batam. Pada 2025, modal dari negara tersebut tersebar di sektor perikanan, alat transportasi, mesin dan elektronik, serta kimia dan farmasi.

Namun, pada semester I 2026, sekitar Rp1,170 triliun atau 99,6 persen investasi Korea Selatan terkonsentrasi di sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi. Investasi tersebut terutama melalui PT Bandara Internasional Batam.

BP Batam Jajaki Perusahaan Korea yang Berpotensi Ekspansi

Selain mengikuti forum penerbangan, delegasi BP Batam bertemu dengan KBRI Seoul dan diterima Wakil Duta Besar RI Ali Andika Wardhana.

Pertemuan tersebut membahas identifikasi perusahaan Korea Selatan yang berpotensi berekspansi ke Batam, fasilitasi pertemuan bisnis, serta peluang kunjungan calon investor ke kawasan industri di kota tersebut.

BP Batam juga mempromosikan keunggulan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ), yang memiliki empat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan 31 kawasan industri.

Sejumlah sektor menjadi sasaran penjajakan investasi, antara lain elektronik dan semikonduktor, komponen kendaraan listrik, rekayasa presisi, penerbangan, logistik, serta teknologi digital.

Rangkaian kunjungan pada 20–24 Oktober 2026 turut mencakup pembelajaran mengenai pengelolaan bandar udara dan kawasan ekonomi di Incheon, Korea Selatan.

Melalui rangkaian agenda tersebut, BP Batam berupaya memperkuat ekosistem Bandara Internasional Hang Nadim sekaligus mendorong jejaring internasional menjadi proyek investasi konkret, penguatan industri, dan pembukaan peluang kerja bagi masyarakat Batam. (*)

Editor : Putut Ariyo
investasi Korea Selatan bp batam bandara hang nadim Fary Djemy Francis investasi batam