MBG dan Kopdes Jadi Penopang Ekonomi RI Kuartal III 2026

JawaPos • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 18:25 WIB
Ilustrasi petugas SPPG di Jawa Timur sedang menyiapkan menu MBG. (JawaPos)
Ilustrasi petugas SPPG di Jawa Timur sedang menyiapkan menu MBG. (JawaPos)

batampos - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) disebut menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut mencapai 5,47 persen. Salah satu faktor pendorongnya adalah konsumsi pemerintah yang tumbuh 8,95 persen.

Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tumbuh 5,66 persen.

Airlangga mengatakan, belanja pemerintah dalam dua kuartal terakhir, khususnya kuartal II dan III 2026, terus digenjot untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Belanja pemerintah ini sebagian dari konsumsi daripada program-program pemerintah unggulan, termasuk MBG dan juga koperasi KDKMP," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11).

Selain konsumsi pemerintah, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 juga ditopang kinerja ekspor yang tumbuh 4,58 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kuartal II 2026 yang tumbuh 4,07 persen.

Sementara impor tumbuh 7,31 persen. Menurut Airlangga, peningkatan impor terutama didorong kebutuhan produksi, investasi, bahan baku, dan barang modal.

Industri Pengolahan Tumbuh 5,87 Persen

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi salah satu sektor dengan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Sektor tersebut memiliki kontribusi 19,22 persen dengan pertumbuhan 5,87 persen.

Airlangga menyebut sejumlah subsektor industri mencatat pertumbuhan cukup tinggi. Industri makanan dan minuman tumbuh 7,09 persen, industri kimia dan farmasi 8,1 persen, serta industri logam dasar 9,94 persen.

Pertumbuhan industri logam dasar tersebut, menurut Airlangga, tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi. Sementara industri otomotif tumbuh 6,14 persen.

"Pertumbuhan industri makanan dan minuman juga tumbuh tinggi, 7,09 persen. Kimia dan farmasi di angka 8,1 persen. Kemudian logam dasar di angka 9,94 persen, ini bagian dari kebijakan hilirisasi. Dan juga di industri otomotif tumbuhnya 6,14 persen," jelasnya.

Ia mengatakan pertumbuhan industri kimia turut didorong implementasi kebijakan biodiesel B50, investasi Fatty Acid Methyl Ester (FAME), serta peningkatan produksi FAME.

Selain itu, pemanfaatan pupuk dan investasi yang berkaitan dengan hilirisasi juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan sektor tersebut.

Sektor jasa juga mencatat kinerja positif. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 11,22 persen, sedangkan jasa keuangan tumbuh 8,47 persen.

Sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,13 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusi industri digitalisasi terhadap perekonomian juga meningkat menjadi sekitar 4,28 persen.

"Dan tadi kami sampaikan bahwa industri konstruksi pun tumbuh 6,42 persen," pungkas Airlangga.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Kopdes Kuartal Mbg ekonomi