batampos – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan kembali melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 86 poin ke level Rp 18.082 per dolar AS pada perdagangan Kamis (5/11).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.
"Untuk perdagangan (6/11) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.080 - Rp 18.130,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (6/11).
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah kali ini akan dipengaruhi sejumlah sentimen domestik, terutama perkembangan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 tercatat sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan II 2026 yang tumbuh 5,29 persen.
Capaian itu menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat. Konsumsi masyarakat, kegiatan usaha, investasi, serta belanja pemerintah dinilai masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen.
Kondisi ini menunjukkan pemulihan ekonomi belum sepenuhnya merata. Karena itu, peningkatan daya beli masyarakat dan investasi sektor swasta masih dibutuhkan untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Ibrahim mengatakan, pelaku pasar juga akan mencermati kualitas pertumbuhan ekonomi, terutama terkait daya beli masyarakat, inflasi, pergerakan nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal.
“Jika pertumbuhan terus terjaga tanpa tekanan inflasi yang tinggi, hal ini dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Selain pertumbuhan ekonomi, kebijakan subsidi dan kompensasi energi juga menjadi perhatian pasar. Penambahan anggaran subsidi dan kompensasi energi menjadi Rp 500 triliun pada 2026 dinilai berpotensi membantu menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Menurut Ibrahim, peningkatan alokasi tersebut diharapkan dapat menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan energi lainnya agar tidak langsung membebani masyarakat.
Kebijakan ini dinilai penting di tengah kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya impor energi.
Tambahan subsidi berpotensi menjaga konsumsi rumah tangga sekaligus menahan tekanan inflasi dalam jangka pendek.
Namun, dari sisi fiskal, peningkatan alokasi subsidi energi juga perlu dicermati. Sebab, semakin besar anggaran yang digunakan untuk subsidi, semakin terbatas ruang fiskal pemerintah untuk membiayai belanja produktif dan pembangunan.
“Jika harga minyak dan pelemahan rupiah terus berlanjut, risiko pelebaran defisit anggaran juga perlu diperhatikan,” pungkasnya.(*)
Editor : Cipi Ckandina