batampos – Rumah Sakit BP Batam (RSBP) terus berinovasi dalam pengelolaan limbah medis dengan mengoperasikan teknologi Sterilwave, sistem modern yang mampu menghancurkan sekaligus mensterilkan limbah infeksius secara aman dan ramah lingkungan.
Teknologi ini bekerja melalui dua tahapan utama, yakni penghancuran (shredding) dan sterilisasi menggunakan gelombang mikro. Limbah medis seperti plastik bekas alat kesehatan, jarum suntik, hingga material infeksius lainnya diproses hingga tidak lagi berbahaya.
Menariknya, hasil olahan limbah tersebut tidak langsung dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pembuatan paving block. Material berbasis plastik yang telah steril dicampur dengan bahan lain untuk menghasilkan produk yang kuat dan dapat digunakan pada berbagai fasilitas, seperti halaman, jalur pejalan kaki, hingga area publik.
Baca Juga: Waspada Penipuan Haji di Batam, Nama Kepala Kantor Kemenhaj Dicatut
Direktur RSBP Batam, Kolonel Laut (K) dr. Tanto Budiharto, mengatakan inovasi ini tidak hanya menekankan aspek keselamatan dalam pengelolaan limbah medis, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi lingkungan.
“Kami berkomitmen menghadirkan pengelolaan limbah medis yang memenuhi standar kesehatan sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan implementasi konsep circular economy, di mana limbah diolah menjadi produk bernilai guna. Selain mengurangi volume limbah medis yang harus dimusnahkan secara konvensional, metode ini juga membantu menekan risiko pencemaran lingkungan.
Baca Juga: Pelanggan Tembus 342 Ribu, Batam Butuh Solusi Air Berkelanjutan
Saat ini, RSBP Batam menjadi salah satu pelopor di Batam dan Kepulauan Riau dalam penerapan teknologi pengolahan limbah medis terpadu yang terintegrasi dengan pemanfaatan hasil olahannya.
Ke depan, pihak rumah sakit membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari fasilitas kesehatan, instansi pemerintah, hingga sektor swasta, guna mengembangkan sistem pengelolaan limbah medis yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan. (*)
Editor : M Tahang