batampos - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat, 707 warga Batam mengidap gangguan jiwa selama tahun 2024 atau sampai dengan Mei 2024. Orang dalam gangguan jiwa itu (ODGJ) dipicu beberapa faktor.
”Utamanya masalah ekonomi,” ujar Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, Senin (20/5).
Bila dibandingkan dengan data tahun 2023 lalu, pasien ODGJ yang ditangani Dinkes Batam mencapai 1.505 orang. Angka ini bisa saja lebih tinggi mengingat 707 orang ini terdata di bulan Mei. ”Ini data real time ya, angkanya cukup banyak,” tambah Didi.
Ia mengungkapkan, ratusan warga yang masuk kategori ODGJ tak melulu karena persoalan ekonomii, bisa juga karena masalah sosial dan lingkungan. Permasalahan yang menimpa mereka sulit dikontrol sehingga kejiwaan mereka terganggu. Kasus ODGJ ini dipicu dari beban hidup, ekonomi, sosial, serta ketidakmampuan untuk mengelola emosi sehingga mengalami stres yang berat.
Didi mengatakan, skrining jiwa ke sekolah-sekolah merupakan upaya pendeteksian secara dini pasien yang memiliki masalah kejiwaan atau depresi. Bila melihat saat ini, banyak kasus depresi berdasarkan skrining yang dilakukan, salah satunya adalah depresi yang menjadi kasus kesehatan tertinggi.
Dia menambahkan, sampai Mei 2024 ini, sudah ada 218.639 orang yang melakukan skrining kejiwaan ini. Hasilnya, sebanyak 687 pasien ODGJ berat dan mendapat pelayanan di puskesmas.
Selain skiring jiwa ke sekolah-sekolah, pihaknya juga rutin melakukan kunjungan ke rumah warga yang mengalami gangguan jiwa, rujukan pasien dengan ODGJ ke RSUD, hingga melakukan evakuasi kepada pasien yang mengalami ODGJ.
”Artinya kita deteksi dini pasien yang memiliki gangguan jiwa ini,” tegas Didi. (*)
Editor : Putut Ariyo