Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Ada Dugaan Keracunan, SPPG Dapur Seipelenggut,Batam Ditutup Sampai Hasil Pemeriksaan Turun

Eusebius Sara • Kamis, 2 Oktober 2025 | 18:00 WIB
SPPG Seipelenggut yang tutup beroperasi.
SPPG Seipelenggut yang tutup beroperasi.

batampos— Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam, Defri Frenaldi, memastikan penutupan dapur MBG di Seipelenggut, Sagulung, dilakukan sesuai instruksi resmi dari deputi pemantauan dan pengawasan SPPG. Penutupan diberlakukan sejak Senin (29/9) dan akan berlangsung sampai waktu yang belum ditentukan.

Menurut Defri, dapur hanya dapat kembali beroperasi setelah memenuhi sejumlah persyaratan.

Di antaranya, hasil pemeriksaan makanan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sertifikasi laik izin sanitasi, pemeriksaan kesehatan lingkungan dari laboratorium puskesmas, hingga uji kualitas air dari laboratorium kesehatan masyarakat. “Seluruh hasil pemeriksaan ini menjadi dasar apakah dapur bisa beroperasi kembali atau tidak,” jelasnya.

Defri menambahkan, ke depan setiap dapur SPPG diwajibkan untuk memposting menu makanan harian ke akun Instagram resmi SPPG. Langkah ini bertujuan memberikan transparansi sekaligus memudahkan pemantauan publik.

Ia juga mengimbau pihak sekolah agar lebih proaktif berkoordinasi jika ada keluhan terkait makanan yang disalurkan. “Kalau ada masalah, segera sampaikan ke kami. Dengan begitu, makanan yang dianggap bermasalah bisa langsung ditarik sebelum menimbulkan dampak lebih luas,” ujarnya.

Lebih jauh, Defri menegaskan pihaknya membedakan antara unsur kesengajaan dan kelalaian dalam kasus ini. Jika ada indikasi kesengajaan dalam penyediaan makanan yang membahayakan siswa, maka proses hukum akan ditempuh melalui kepolisian. Namun jika hanya berupa kelalaian, evaluasi internal akan menjadi langkah utama.

Sementara itu, untuk sementara waktu, program MBG di sekolah-sekolah penerima manfaat dari dapur Seipelenggut dihentikan. Jika hasil pemeriksaan tidak memungkinkan dapur kembali beroperasi, maka sekolah-sekolah tersebut akan dialihkan ke dapur MBG lain yang masih aktif.

“Kalau memang harus tutup permanen, sekolah penerima akan kita alihkan ke dapur terdekat agar distribusi program MBG tetap berjalan,” tambah Defri.

Kasus ini mencuat setelah 17 murid SDN 016 Seilekop mengalami mual, muntah, dan pusing seusai menyantap menu MBG pada Jumat (29/9). Meski pihak rumah sakit menyebut gejala siswa tidak bisa langsung disebut keracunan, evaluasi dapur penyedia tetap dilakukan.

SPPG Batam kini menekankan evaluasi menyeluruh pada seluruh dapur penyedia MBG. Selain pemeriksaan kualitas makanan, aspek sanitasi, kebersihan air, dan kelayakan lingkungan akan menjadi prioritas.

Dengan langkah ini, Defri berharap ke depan program MBG dapat kembali berjalan dengan aman dan benar-benar memberi manfaat bagi anak-anak. “Tujuan awal program ini baik, yakni meningkatkan gizi siswa. Karena itu kami ingin memastikan keamanan dan kualitas makanan benar-benar terjamin,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Tunggul Manurung
#Mbg #keracunan #SPPG