batampos- Jasman, Wara Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, suami dan ayah dari tiga orang anak kini resmi diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lingga.
Setelah lebih kurang 10 tahun menjadi tenaga honorer lalu diangkat menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Saptop PP Kabupaten Lingga unit Dabo Singkep kini Jasman resmi menjadi PPPK setelah dilantik dan menerima SK.
Diketahui bahwa Jasman mulai bekerja di Satpol PP sejak tahun 2005. Kemudian sekitar satu tahun silam, nasib buruk menimpa Jasman. Pada suatu malam ketika sedang piet jaga, jasman merasa tidak enak badan dan izin pulang, dan keesokan harinya mata Jasman tidak bisa melihat.
"Pada saat saya kena piket jaga malam, saya merasa tidak enak badan. Jadi saya izin pulang lepas rekan saya yang satu piket jaga. Saya sampaikan jika kepulangan saya ini tidak dibenarkan saya siap menerima sanksi. Setelah sampai dirumah saya langsung tidur, keesokan harinya katika bangun tidur mata saya sudah tidak bisa melihat," ujar Jasman saat diwawancarai pada Senin (6/20).
Mulai sejak saat itu, hari-hari yang dijalani oleh Jasman menjadi hambar karena kedua matanya sudah tidak biss melihat. Terkadang muncul rasa putus asa dalam dirinya.
"Namun, semua itu menjadi hilang karena istri dan 3 orang anak saya selalu memberikan dukungan dan kasih sayang kepada saya walaupun kondisi saya saat ini sudah tidak seperti dulu lagi," ungkap Jasman Denga wajah sedih.
Dengan tekad dan semangat hidup yang kembali menggelora berkat dukungan dan kasih sayang dari istri an anaknya, Jasman kembali bangkit untuk terus bekerja dan beraktivitas seperti biasa.
Dengan kondisi Jasman saat ini, dirinya ditugaskan sebagai petugas piket jaga di Pos Satpol PP.
"Rahmat dan karunia Tuhan itu nyata. Ketika kita berdamai dengan keadaan dan menerima ketentuan Tuhan, maka tidak ada yang tidak mungkin di Dunia ini. Alhamdulillah walaupun dengan kondisi saya saat ini tidak bisa melihat, saya dilantik menjadi PPPK," jelas Jasman dengan haru.
Jasman mengatakan perasaannya pada hari ini tidak bisa digambarkan. Senang, sedih haru bercampur aduk menjadi satu.
Dari kisah Jasman ini kita belajar bahwa keterbatasan tidak menghalangi kita untuk terus bekerja dan berkarya. (*)
Editor : Tunggul Manurung