batampos- RSBP Batam resmi dikukuhkan sebagai rumah sakit pionir pertama di Provinsi Kepulauan Riau yang menjadi penyelenggara Program Fellowship Kardiologi Intervensi, menyusul penandatanganan MoU dengan Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah, Kamis (18/12).
Penandatanganan MoU berlangsung di Marketing Centre BP Batam dan menjadi tonggak penting dalam upaya pemerataan layanan jantung tingkat lanjut di Indonesia, sekaligus memperkuat peran Batam dalam jejaring nasional layanan kesehatan.
Program Fellowship Kardiologi Intervensi merupakan pelatihan subspesialisasi bagi dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (Sp.JP) untuk menguasai prosedur invasif minimal berbasis kateter dalam penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah.
MoU tersebut ditandatangani oleh Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, dan Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah, Dr dr Renan Sukmawan ST SpJP (K).
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah atas pendampingan dan kerja sama yang telah terjalin hingga terlaksananya penandatanganan Nota Kesepahaman ini,” katanya.
Ia menyebut, kerja sama tersebut dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat layanan kesehatan, khususnya melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang kardiologi intervensi.
“Program fellowship ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan tenaga medis yang kompeten dan berdaya saing, sejalan dengan kebutuhan layanan kesehatan yang terus berkembang,” kata Tuty.
Melalui kerja sama ini, RSBP Batam akan berperan sebagai bagian dari jejaring penyelenggaraan fellowship nasional yang dilaksanakan secara bertahap dengan tetap mengedepankan mutu dan akuntabilitas pelayanan.
Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah, Renan Sukmawan, menyampaikan, program Fellowship Kardiologi Intervensi merupakan target pemerintah dalam rangka pemerataan layanan jantung di Indonesia.
“Berbicara kardiologi intervensi, tercatat sekitar 650 ribu orang mengalami kelainan jantung, dengan angka kematian mencapai 350 ribu orang. Antrian untuk mendapatkan tindakan juga sangat panjang,” ujar dia.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mendorong peningkatan jumlah dokter ahli yang mampu melakukan tindakan intervensi, termasuk pemasangan ring jantung, guna menekan angka kematian akibat serangan jantung.
“Dengan memperbanyak ahli, kita harapkan tidak lagi banyak pasien meninggal akibat serangan jantung dan antrean tindakan bisa diminimalkan,” katanya.
Ia menilai, RSBP Batam memenuhi kriteria sebagai rumah sakit penyelenggara fellowship dan menjadi pionir di Kota Batam. Kerja sama ini sebagai langkah dalam misi pendidikan, misi kemanusiaan, serta investasi jangka panjang bagi pengembangan rumah sakit.
Sementara itu, Direktorat Mutu SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr Yudhi Pramono, menyampaikan, secara nasional saat ini terdapat 18 rmah sakit yang menjadi pusat Fellowship Kardiologi Intervensi.
“Untuk Provinsi Kepulauan Riau, baru RSBP Batam yang bekerja sama dengan Kolegium. Bertambahnya RSBP Batam sebagai center baru akan memperluas cakupan layanan untuk Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan pusat fellowship ini mendukung target pemerintah agar pada tahun 2027 seluruh 547 kabupaten/kota di Indonesia telah terlayani oleh dokter spesialis jantung. (*)
Editor : Tunggul Manurung