batampos – Krisis distribusi air bersih di Perumahan Rindang Garden Village RW 029, Kelurahan Buliang, Kecamatan Batuaji, juga menjadi sorotan. Permasalahan yang telah berlangsung sejak 2021 itu berdampak pada sekitar 120 kepala keluarga yang tersebar di sembilan blok, dari Blok A hingga Blok I.
Ketua RT 01 RW 029, Mustawan, mengatakan bahwa seluruh blok saat ini menerima air dengan debit sangat kecil. “Kalau Blok D dan E memang lebih dulu dapat air, sekitar pukul 12.00 WIB sampai 04.00 WIB karena posisinya paling depan. Tapi tujuh blok lainnya hanya dapat air pukul 02.00 WIB sampai 04.00 WIB, itu pun kecil sekali,” ujarnya, Jumat (13/2).
Ia menyebut, persoalan ini bukan masalah baru. Sejak 2024 warga telah berulang kali mengajukan keluhan ke dinas terkait. “Sudah sering kami sampaikan, tapi belum ada perbaikan nyata. Akhirnya warga bertahan dan cari solusi sendiri sambil menunggu perhatian pemerintah,” katanya.
Pada 6 Februari 2026, warga kembali mendatangi pengelola air, yakni PT Air Batam Hilir (ABH) Kota Batam, untuk menyampaikan aspirasi dan meminta bantuan distribusi air melalui mobil tangki. “Kami minta minimal dua mobil tangki karena kondisi sudah sangat menyulitkan. Sudah empat hari terakhir ini dibantu tangki,” jelas Mustawan.
Menurutnya, alasan musim kemarau yang disampaikan pihak ABH kurang tepat. “Masalah ini sudah lama, bukan cuma saat kemarau. Jadi kalau dibilang karena musim kemarau saja, menurut kami itu tidak masuk akal,” tegasnya.
Mustawan juga membandingkan kondisi distribusi saat masih dikelola PT Adhya Tirta Batam (ATB). “Dulu memang tidak selalu lancar, tapi air hidup tiap pukul 19.00 WIB dengan tekanan yang bagus. Setelah pindah ke ABH sekitar 2021, justru makin terganggu,” katanya.
Untuk menyiasati krisis, warga membangun sumur cincin di setiap RT dan memasang tandon di rumah masing-masing. “Air sumur kami ambil manual, lalu dimasukkan ke tandon. Itu solusi sementara supaya kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi,” ujar Mustawan.
Sementara itu, SPV Customer Service PT ABH KPP Batuaji, Puji Ismanto, mengakui belum adanya pembaruan pompa dan jaringan pipa sejak peralihan pengelolaan. “Sejak peralihan dari ATB ke ABH memang belum ada pembaruan alat pompa maupun jaringan. Ini berdampak pada perumahan yang jauh dan berada di dataran lebih tinggi seperti Rindang Village,” jelasnya.
Puji menambahkan, distribusi air tidak bisa digilir sembarangan. “Setiap perhitungan harus mempertimbangkan kondisi teknis. Tidak bisa asal buka-tutup aliran karena ada risiko pada sistem,” katanya.
Saat ini, ABH memiliki empat unit mobil tangki yang melaksanakan 34 trip untuk wilayah Batu Aji, Sekupang, dan Sagulung. “Idealnya untuk 34 trip itu butuh tujuh unit mobil tangki. Kami akan upayakan penambahan armada, termasuk menindaklanjuti permintaan warga agar distribusi bisa dilakukan pukul 16.00 WIB sampai 22.00 WIB,” ujarnya. (*)