Perempuan kelahiran Dabo Singkep itu menilai pergantian tahun dalam penanggalan Tionghoa menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi perjalanan hidup sekaligus menata harapan baru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin daerah.
“Imlek adalah waktu untuk bersyukur atas berkat sepanjang tahun, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan meneguhkan niat untuk berbuat lebih baik ke depan,” katanya, Sabtu (14/2).
Menurutnya, semangat Imlek sejalan dengan nilai universal seperti kerja keras, ketekunan, dan keharmonisan keluarga—nilai penting dalam membangun kota yang inklusif dan berdaya saing.
Sebagai Wakil Wali Kota Batam periode 2025–2030, Li Claudia menegaskan keberagaman budaya di Batam merupakan kekuatan utama daerah tersebut. Ia berharap, perayaan Imlek dapat menjadi jembatan untuk mempererat persaudaraan antarwarga lintas etnis dan agama.
“Batam adalah rumah bersama. Keberagaman bukan untuk dipisahkan, tetapi dirayakan sebagai kekayaan yang menyatukan,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai awal memperkuat solidaritas sosial dengan berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Semangat kepedulian sosial, kata dia, merupakan bagian penting dari makna perayaan.
Bagi Li Claudia, Imlek tahun ini terasa lebih khusus karena dijalani di tengah tanggung jawab sebagai pemimpin daerah. Ia berharap tahun baru membawa keberkahan, stabilitas, dan kemajuan bagi Batam serta seluruh warganya.
Menutup pesannya, Li Claudia mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek kepada masyarakat yang merayakan, seraya mendoakan kesehatan, kedamaian, dan kemakmuran bagi semua.
“Semoga tahun baru membawa harapan, keberuntungan, dan kebahagiaan bagi kita semua,” tutupnya. (*)
Editor : Jamil Qasim