batampos – Upaya deteksi dini anemia di kalangan remaja putri terus diperkuat Dinas Kesehatan Kota Batam. Melalui pemeriksaan hemoglobin (Hb) rutin di sekolah dan puskesmas, sebanyak 739 remaja putri atau sekitar 3,1 persen teridentifikasi mengalami anemia sepanjang 2025.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan skrining aktif dilakukan agar kasus anemia bisa ditemukan lebih awal dan segera ditangani.
“Pemeriksaan Hb kami lakukan di sekolah-sekolah dan juga melalui program Cek Kesehatan Gratis. Dari situ terdata 739 remaja putri mengalami anemia dan semuanya sudah diberikan pengobatan sesuai standar,” ujarnya.
Menurutnya, deteksi dini menjadi kunci agar anemia tidak berdampak pada proses belajar maupun kesehatan jangka panjang. Remaja dengan kadar Hb rendah langsung mendapatkan Tablet Tambah Darah (TTD) satu hingga dua tablet per hari selama dua hingga empat minggu.
“Setiap dua minggu kami evaluasi kembali. Kalau belum membaik, pemberian TTD dilanjutkan atau dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan,” jelasnya.
Didi menilai angka 3,1 persen di Batam relatif lebih kecil dibandingkan angka nasional. Meski demikian, upaya pencegahan tetap perlu diperkuat, terutama melalui edukasi dan pengawasan konsumsi TTD di sekolah.
“Tantangan kami bukan hanya menemukan kasus, tapi memastikan remaja mau rutin minum TTD. Masih ada yang takut mual, khawatir efek samping, atau percaya mitos yang tidak benar,” katanya.
Selain faktor kepatuhan, dukungan sekolah dan orang tua dinilai sangat menentukan keberhasilan program. Distribusi TTD yang merata dan pengawasan guru saat pembagian juga terus diperbaiki.
Ia menambahkan, anemia pada remaja dapat menyebabkan lemas, pusing, hingga pingsan saat beraktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga bisa memengaruhi kesehatan reproduksi.
“Karena itu pencegahan sejak usia sekolah sangat penting. Kami ingin remaja Batam tumbuh sehat dan produktif,” tutupnya. (*)