batampos - Upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menghangat setelah Teheran mengajukan proposal baru untuk meredakan konflik yang masih berlangsung.
Langkah ini disebut sebagai upaya terbaru Iran untuk membuka jalur negosiasi setelah ketegangan berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Namun, respons dari Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap yang tetap keras.
Donald Trump menilai proposal tersebut tidak dapat diterima. Ia menegaskan bahwa syarat utama bagi berakhirnya konflik adalah jaminan tegas bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Sikap ini menunjukkan garis keras Washington yang tetap memprioritaskan isu nuklir dibanding kompromi bertahap.
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 12 Orang, Total Korban Tembus 2.600
Iran juga mengajukan rencana yang lebih luas dalam bentuk proposal 14 poin. Donald Trump menyatakan keraguannya dan menilai Iran “belum membayar harga yang cukup besar” atas tindakannya, sehingga kesepakatan masih jauh dari tercapai.
Donald Trump bahkan membuka kemungkinan aksi militer lanjutan jika Iran tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat.
Ia menyebut opsi serangan tambahan tetap berada di meja sebagai bagian dari strategi menekan Teheran dalam negosiasi.
Proses diplomasi masih berlangsung melalui mediator internasional. Iran menegaskan tetap terbuka terhadap dialog, tetapi menginginkan pengurangan tekanan dan pendekatan yang lebih fleksibel dari pihak AS.
Namun, berbagai laporan menunjukkan bahwa kedua pihak masih memiliki jarak besar dalam mencapai kesepakatan final, terutama terkait isu nuklir dan keamanan regional.(*)
Editor : Juliana Belence