Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Populasi Anak Jepang Turun ke Rekor Terendah, Krisis Demografi Makin Dalam

Antara • Senin, 4 Mei 2026 | 18:59 WIB
Suasana di, Jepang. Data terbaru menunjukkan jumlah anak di Jepang terus merosot ke level terendah sepanjang sejarah, memicu kekhawatiran krisis demografi.  / F. unsplash
Suasana di, Jepang. Data terbaru menunjukkan jumlah anak di Jepang terus merosot ke level terendah sepanjang sejarah, memicu kekhawatiran krisis demografi. / F. unsplash

batampos — Jepang kembali mencatat penurunan signifikan dalam jumlah populasi anak, memperdalam kekhawatiran terhadap krisis demografi yang telah berlangsung puluhan tahun.

Berdasarkan data pemerintah yang dirilis Senin, jumlah anak berusia di bawah 15 tahun di Jepang turun menjadi sekitar 13,29 juta jiwa per 1 April 2025. Angka tersebut menurun sekitar 350.000 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi rekor terendah baru.

Data dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menunjukkan rasio anak terhadap total populasi juga turun menjadi 10,8 persen, atau berkurang 0,3 poin persentase. Ini merupakan level terendah sejak pencatatan seragam dimulai pada 1950.

Perhitungan tersebut mencakup penduduk warga negara Jepang maupun warga asing, dan didasarkan pada estimasi populasi dari sensus nasional yang dilakukan setiap lima tahun.

Dari sisi gender, jumlah anak laki-laki tercatat sekitar 6,81 juta jiwa, sementara anak perempuan sebanyak 6,48 juta jiwa. Sementara berdasarkan kelompok usia, terdapat 3,09 juta anak berusia 12–14 tahun, dan hanya 2,13 juta anak berusia 0–2 tahun, menunjukkan penurunan tajam angka kelahiran.

Data ini sejalan dengan laporan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang yang mencatat jumlah kelahiran pada 2025 turun menjadi 705.809 bayi, terendah sepanjang sejarah dan menurun selama 10 tahun berturut-turut.

BACA JUGA: Pohon Jati Emas di Jalur Bandara Batam Dirusak Orang Tak Dikenal

Tren penurunan populasi anak di Jepang telah berlangsung sejak 1982, setelah sebelumnya mencapai puncak 29,89 juta jiwa pada 1954. Gelombang kelahiran kedua sempat terjadi pada periode 1971–1974, namun tidak cukup untuk membalikkan tren jangka panjang.

Pemerintah Jepang sendiri telah menjadikan isu penurunan angka kelahiran sebagai prioritas nasional, bahkan menyebut periode hingga 2030 sebagai “kesempatan terakhir” untuk membalikkan tren tersebut. Namun, berbagai kebijakan seperti bantuan finansial bagi keluarga belum mampu menghentikan penurunan yang telah berlangsung lebih dari 45 tahun.

Secara global, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan Jepang memiliki salah satu rasio anak terendah di dunia, hanya sedikit lebih tinggi dari Korea Selatan yang mencatat 10,2 persen.

Kondisi ini menempatkan Jepang sebagai salah satu negara dengan tantangan demografi paling serius di dunia, dengan dampak jangka panjang terhadap tenaga kerja, ekonomi, dan struktur sosial. (*)

Editor : Putut Ariyo
#populasi Jepang #krisis demografi Jepang #angka kelahiran Jepang #anak Jepang #korea selatan