batampos - Industri penerbangan global tengah menghadapi tekanan besar akibat krisis bahan bakar yang semakin memburuk.
Lonjakan harga avtur yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah membuat banyak maskapai mulai memangkas jadwal penerbangan hingga membatalkan ribuan rute internasional.
Lebih dari 13.000 penerbangan global dibatalkan sepanjang Mei 2026. Kondisi ini membuat jutaan kursi penerbangan hilang dari pasar dan memicu kekhawatiran akan kekacauan transportasi udara menjelang musim liburan musim panas di Eropa dan Amerika Utara.
Harga bahan bakar jet melonjak drastis dari kisaran US$85 - 90 per barel menjadi US$150 - 200 per barel setelah memanasnya konflik Iran dengan blok Amerika Serikat dan Israel.
Industri penerbangan menjadi salah satu sektor paling terpukul karena biaya bahan bakar dapat mencapai seperempat total pengeluaran operasional maskapai.
Baca Juga: Trump: Iran Sudah Setuju Tak Miliki Senjata Nuklir
Maskapai - maskapai besar mulai mengambil langkah darurat. Lufthansa dilaporkan memangkas ribuan penerbangan musim panas untuk menekan konsumsi bahan bakar.
United Airlines juga mengurangi rute yang dianggap tidak lagi menguntungkan akibat kenaikan harga minyak dunia.
Maskapai - maskapai Amerika Serikat menghabiskan lebih dari US$5 miliar untuk bahan bakar hanya dalam Maret 2026.
Situasi tersebut sebagai krisis terbesar industri aviasi sejak pandemi COVID-19. Kekhawatiran meningkat setelah sejumlah bandara mulai menghadapi risiko kekurangan avtur di Eropa.
Pemerintah Jerman bahkan meminta bantuan pasokan bahan bakar jet dari Israel untuk menjaga stabilitas operasional penerbangan selama krisis berlangsung.
Sejumlah maskapai mulai menaikkan harga tiket dan biaya tambahan bahan bakar untuk menutup lonjakan pengeluaran.
Virgin Atlantic disebut mulai menerapkan fuel surcharge tambahan pada beberapa penerbangan jarak jauh. Maskapai lain mempertimbangkan langkah serupa.
Analis industri memperingatkan pembatalan penerbangan bisa terus bertambah apabila situasi geopolitik dan distribusi minyak dunia tidak segera membaik.
Penumpang global juga diperkirakan akan menghadapi lebih banyak penundaan dan pengurangan jadwal penerbangan dalam beberapa bulan mendatang.(*)
Editor : Juliana Belence