batampos — Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas setelah militer Tiongkok mengusir helikopter milik Angkatan Laut Belanda yang disebut memasuki wilayah udara kawasan sengketa Xisha Qundao.
Beijing menuding kapal perang Belanda melakukan tindakan provokatif dan melanggar kedaulatan wilayah Tiongkok.
Komando Teater Selatan militer Tiongkok menyatakan fregat Angkatan Laut Belanda, De Ruyter, beberapa kali menerbangkan helikopter militer dari atas kapal hingga memasuki wilayah udara Tiongkok di Laut China Selatan.
Menanggapi hal tersebut, militer Tiongkok langsung mengerahkan kekuatan laut dan udara untuk melakukan pengusiran.
Selain memberikan peringatan verbal, militer Tiongkok juga disebut melakukan gangguan elektronik terhadap kapal perang tersebut.
Baca Juga: Disdik Batam Buka SPMB SD-SMP 2026 Mulai 8 Juni
“Langkah pihak Belanda secara serius melanggar kedaulatan teritorial Tiongkok serta keamanan maritim dan udara, juga melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional,” demikian pernyataan Komando Teater Selatan Tiongkok seperti dilansir France24.
Juru bicara Komando Teater Selatan PLA, Zhai Shichen, mengatakan kapal perang Belanda itu masuk secara ilegal ke wilayah Tiongkok dan menjalankan sejumlah operasi helikopter dari atas kapal.
Menurut dia, pasukan laut dan udara Tiongkok segera mengambil langkah yang diperlukan sesuai hukum dan regulasi untuk mengusir kapal tersebut.
“Tiongkok memperingatkan Belanda agar segera menghentikan tindakan pelanggaran dan provokasi,” ujarnya.
Dilarang Ikut Campur
Di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap situasi Laut China Selatan dan Laut China Timur, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan kondisi kawasan masih stabil.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning meminta negara-negara tertentu tidak ikut campur dalam urusan maritim di sekitar wilayah perairan Tiongkok.
“Negara-negara tertentu harus berhenti ikut campur dalam urusan maritim di sekitar China dan benar-benar menghormati upaya negara-negara kawasan dalam menjaga perdamaian dan stabilitas,” kata Mao Ning, Rabu (27/5), seperti dilansir China Daily. (*)
Editor : Putut Ariyo