batampos - Presiden AS, Donald Trump mengumumkan bahwa ia membatalkan serangan militer baru terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Kamis (11/6) malam.
Trump mengklaim para pemimpin Iran telah menyetujui poin - poin utama sebuah kesepakatan yang mencakup perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan dimulainya negosiasi nuklir selama 60 hari.
Melalui unggahan di Truth Social, Donald Trump menyatakan bahwa proses pembahasan dan poin - poin akhir kesepakatan telah mendapatkan persetujuan sehingga serangan yang semula disiapkan untuk menghantam target - target Iran dibatalkan.
Amerika disebut masih mempertahankan blokade laut terhadap Iran hingga seluruh ketentuan perjanjian resmi ditandatangani.
Rancangan kesepakatan mencakup perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta dimulainya perundingan nuklir selama 60 hari antara kedua negara.
Kesepakatan disebut merupakan hasil mediasi intensif yang melibatkan sejumlah negara kawasan dan diplomat Qatar dalam beberapa hari terakhir.
Namun, pemerintah Iran membantah bahwa kesepakatan akhir telah tercapai. Pemerintah Iran melaporkan bahwa pembicaraan memang menunjukkan kemajuan signifikan, tetapi belum ada keputusan final yang disetujui secara resmi.
Sejumlah isu sensitif, termasuk program nuklir dan aktivitas rudal Iran, masih menjadi bahan negosiasi. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir setelah militer AS melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target Iran.
Trump bahkan sempat mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan besar apabila Iran menolak mencapai kesepakatan damai. Iran tetap mempertahankan pembatasan di Selat Hormuz.
Para diplomat yang terlibat dalam pembicaraan memperingatkan bahwa peluang kesepakatan gagal masih cukup besar karena sejumlah persoalan utama belum terselesaikan.
Harga minyak dunia turun setelah investor menilai risiko eskalasi konflik berkurang untuk sementara waktu. Namun para analis menilai volatilitas masih tinggi mengingat belum adanya dokumen resmi yang ditandatangani kedua pihak.(*)
Editor : Juliana Belence