batampos - Harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah kembali menguat setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menyepakati penghentian sementara aksi saling serang.
Kesepakatan tersebut menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi yang sempat terancam gagal akibat meningkatnya eskalasi militer dalam beberapa hari terakhir.
Menurut seorang pejabat senior Amerika Serikat, kedua negara sepakat untuk menghentikan sementara seluruh operasi militer langsung dan melanjutkan pembicaraan pada pekan ini di Doha, Qatar.
Pertemuan diharapkan dapat memperkuat gencatan senjata yang masih rapuh sekaligus membahas berbagai isu strategis, termasuk keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Keputusan diambil setelah serangkaian serangan balasan dari kedua pihak memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik. Sebelum kesepakatan dicapai, aksi militer terbaru sempat mengganggu lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Rebound, Eskalasi AS-Iran Bayangi Pasokan Global
Iran disebut berkomitmen membantu menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Amerika Serikat dikabarkan akan melonggarkan blokade terhadap pelabuhan - pelabuhan Iran sesuai tahapan yang telah disepakati dalam nota kesepahaman (MoU) kedua negara.
Pembicaraan yang semula direncanakan berlangsung di Swiss kini dipindahkan ke Doha, Qatar. Agenda perundingan juga akan mencakup upaya meredakan ketegangan yang lebih luas, termasuk isu program nuklir Iran dan langkah - langkah membangun kembali kepercayaan antara kedua negara.
Situasi di lapangan masih dinilai belum sepenuhnya stabil. Beberapa insiden militer yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa gencatan senjata masih sangat rentan.
Kedua pihak disebut sepakat menghentikan serangan untuk saat ini, tetapi keberlanjutan proses damai akan bergantung pada kepatuhan terhadap hasil perundingan di Qatar.
Harga minyak sempat bergerak naik setelah muncul laporan mengenai serangan terbaru dan gangguan terhadap pengiriman energi di Selat Hormuz.
Namun, kabar mengenai kesepakatan penghentian serangan dan dimulainya kembali dialog diplomatik membantu meredakan sebagian kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dunia. Kesediaan AS dan Iran untuk kembali ke meja perundingan dinilai sebagai sinyal positif bagi upaya meredakan konflik yang selama ini memengaruhi keamanan regional maupun perekonomian global.(*)
Editor : Juliana Belence