batampos - Perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun terus menelan korban besar di pihak Rusia.
Militer Rusia diperkirakan kehilangan hampir 40.000 personel hanya dalam satu bulan yang menjadi periode paling berat sejak invasi skala penuh ke Ukraina dimulai pada Februari 2022.
Besarnya jumlah korban tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Rusia mempertahankan kekuatan tempurnya.
Temuan diungkap dalam laporan lembaga pemikir Amerika Serikat, Center for Strategic and International Studies (CSIS).
"Rusia mengalami sekitar 30.000 hingga 34.000 korban militer setiap bulan sepanjang paruh pertama 2026, sedangkan kemampuan merekrut personel baru hanya sekitar 27.000 orang per bulan," tulis analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), dikutip dari CSIS, Minggu (5/7).
Baca Juga: Iran Perketat Aturan Pelayaran di Selat Hormuz, Kapal Wajib Ikuti Jalur Resmi
Juni 2026, korban Rusia mendekati 40.000 personel, terdiri dari sekitar 26.000 tentara tewas dan sekitar 14.000 lainnya terluka. Jika angka tersebut benar, Juni menjadi bulan dengan korban terbesar bagi Rusia sejak perang dimulai.
CSIS memperkirakan sejak invasi besar - besaran dimulai pada Februari 2022, Rusia telah menderita sekitar 1,4 juta korban militer, termasuk 400.000 hingga 450.000 tentara tewas.
Ukraina diperkirakan mengalami 525.000 hingga 625.000 korban, dengan jumlah kematian antara 125.000 hingga 150.000 personel.
Laporan tersebut juga menunjukkan perubahan signifikan dalam rasio korban kedua pihak. Jika pada awal perang Rusia kehilangan sekitar dua hingga tiga prajurit untuk setiap satu korban di pihak Ukraina, pada paruh pertama 2026 rasionya diperkirakan melebar menjadi hampir 8 banding 1.
Para analis menilai tingginya korban Rusia dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari strategi perang yang mengandalkan serangan berulang dengan korban besar (attrition), lemahnya koordinasi operasi gabungan, kualitas pelatihan yang dinilai kurang memadai, persoalan korupsi, hingga rendahnya moral pasukan.
Ukraina dinilai semakin efektif memanfaatkan drone, sistem pengintaian, dan pertahanan berlapis untuk menekan laju ofensif Rusia.
Keuntungan teritorial Rusia sepanjang 2026 dinilai sangat terbatas. CSIS menyebut laju kemajuan pasukan Moskow jauh lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga biaya perang yang harus dibayar Rusia semakin tinggi dibanding hasil yang diperoleh di medan tempur.
Angka korban perang masih sulit diverifikasi secara independen. Pemerintah Rusia tidak secara rutin mempublikasikan data resmi mengenai jumlah tentara yang tewas maupun terluka.
Estimasi yang dirilis CSIS maupun sejumlah media Barat didasarkan pada analisis intelijen, data lapangan, dan berbagai sumber terbuka masih berpotensi mengalami perubahan seiring perkembangan situasi perang.(*)
Editor : Juliana Belence