batampos – Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran diwarnai seruan anti-Amerika Serikat dan kecaman terhadap Presiden AS Donald Trump. Di tengah duka nasional, perhatian dunia juga tertuju pada proses suksesi kepemimpinan Iran setelah wafatnya tokoh yang memimpin negara itu selama puluhan tahun.
Pada hari kedua rangkaian pemakaman nasional, Minggu (5/7), ribuan warga memadati Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, untuk mengikuti salat jenazah dan memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei. Banyak pelayat membawa bendera Iran, foto Khamenei, serta bendera merah yang dalam tradisi Syiah melambangkan tuntutan balas dendam.
Sejumlah peserta bahkan meneriakkan seruan yang menyerukan pembalasan terhadap Presiden AS Donald Trump. Menjelang salat jenazah, penyair Mohammad Rasouli membacakan puisi bernada keras yang mengajak masyarakat membalas kematian Khamenei.
Seruan serupa juga disampaikan sejumlah pejabat Iran. Duta Besar Iran untuk Armenia, Khalil Shirgholami, melalui media sosial X menyatakan bahwa kematian Khamenei tidak akan memadamkan cita-cita perjuangan Iran. Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohammed Bagher Zolghadr, mengatakan pesan utama masyarakat adalah mempertahankan perlawanan terhadap musuh dan menuntut pembalasan atas kematian sang pemimpin.
Prosesi dipimpin ulama senior Ayatollah Ja'far Sobhani. Selain Khamenei, doa juga dipanjatkan untuk beberapa anggota keluarganya yang turut menjadi korban, termasuk menantu perempuan Zahra Haddad Adel dan cucu perempuan berusia 14 bulan, Zahra Mohammadi Golpaygani.
Di tengah prosesi, perhatian publik tertuju pada absennya Mojtaba Khamenei, yang disebut telah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya. Sejak penunjukan tersebut, Mojtaba belum tampil di hadapan publik maupun menyampaikan pernyataan resmi.
Pemerintah Iran menyatakan Mojtaba mengalami luka akibat serangan pada hari pertama perang, namun kondisinya disebut tidak mengalami cacat permanen. Sementara itu, tiga saudara laki-lakinya terlihat hadir mendampingi peti jenazah sang ayah.
Hampir seluruh jajaran elite pemerintahan Iran menghadiri upacara tersebut, termasuk pejabat politik, militer, dan lembaga peradilan. Kehadiran para petinggi keamanan dinilai menunjukkan keyakinan pemerintah bahwa situasi relatif aman setelah gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Di luar kompleks masjid, ribuan pelayat terus meneriakkan slogan-slogan perlawanan. Sebagian di antaranya mengenakan kain kafan putih sebagai simbol kesiapan berkorban demi negara.
Pemerintah Iran mengklaim lebih dari dua juta orang menghadiri hari pertama rangkaian pemakaman, meski belum ada data resmi yang dipublikasikan. Setelah prosesi di Teheran, jenazah Khamenei dijadwalkan dibawa ke kota suci Qom, dilanjutkan ke dua kota suci di Irak, sebelum dimakamkan di Mashhad, kota kelahirannya.
Di tengah berbagai seruan politik, sejumlah warga Iran menegaskan bahwa mereka benar-benar berduka atas wafatnya Khamenei. Meski demikian, kondisi di sebagian kawasan Teheran dilaporkan tetap berjalan normal, mencerminkan beragam respons masyarakat terhadap situasi politik dan keamanan yang tengah dihadapi negara tersebut. (*)
Editor : Jamil Qasim