Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Panas Ekstrem di Eropa Makan Ribuan Korban Jiwa, Inggris Alami Dampak Paling Parah

Juliana Belence • Selasa, 14 Juli 2026 | 18:15 WIB
Gelombang panas hantam Eropa. (x.com/NewsTongueX)
Gelombang panas hantam Eropa. (x.com/NewsTongueX)

batampos - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kembali menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Data resmi menunjukkan lebih dari 10.650 kematian berlebih (excess deaths) tercatat di 27 negara Eropa selama periode 22 – 28 Juni saat suhu udara mencapai rekor tertinggi di sejumlah wilayah. 

Sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia yang sangat rentan terhadap cuaca panas ekstrem. Inggris menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah. 

"Sekitar 2.700 orang meninggal akibat gelombang panas di Inggris dan Wales selama Mei hingga Juni 2026. Para peneliti juga menyebut sekitar 42% dari kematian berkaitan dengan peningkatan suhu yang dipicu perubahan iklim akibat aktivitas manusia," tulis Imperial College London, Met Office, dan London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM), dikutip dari Reuters, Selasa (14/7).

Data kematian berlebih berasal dari EuroMOMO (European Mortality Monitoring), jaringan pemantauan kematian yang didukung European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) dan World Health Organization (WHO). 

Menurut laporan tersebut, lebih dari 9.000 korban berusia 65 tahun ke atas, menunjukkan bahwa kelompok lansia menjadi yang paling rentan saat suhu ekstrem melanda benua itu. Para ahli menyebut panas ekstrem menjadi faktor utama di balik lonjakan angka kematian. 

Baca Juga: Donald Trump Umumkan Tarif 20 Persen untuk Kapal yang Lewati Selat Hormuz

“Tidak ditemukan wabah penyakit besar atau faktor lain yang dapat menjelaskan kenaikan kematian secara signifikan pada periode,” kata Kepala dokter di Statens Serum Institut Denmark, Lasse Vestergaard, dikutip dari Reuters. 

Cuaca panas diketahui dapat menyebabkan heat stroke, dehidrasi, serta memperburuk penyakit jantung, pembuluh darah, dan gangguan pernapasan, terutama pada lansia dan penderita penyakit kronis. 

Gelombang panas juga memecahkan berbagai rekor suhu di sejumlah negara, termasuk Prancis, Spanyol, Belgia, dan Inggris. 

Cuaca ekstrem menyebabkan kebakaran hutan, gangguan transportasi, penutupan sekolah, serta meningkatkan beban layanan kesehatan. Belgia bahkan mencatat tingkat kematian akibat gelombang panas tertinggi sejak pencatatan dimulai pada tahun 2000.

Sejumlah ilmuwan iklim menilai peristiwa ini tidak dapat dilepaskan dari dampak pemanasan global. Kelompok peneliti World Weather Attribution menyimpulkan bahwa gelombang panas yang melanda Eropa pada Juni 2026 hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. 

Kenaikan suhu global membuat gelombang panas menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens dibandingkan beberapa dekade lalu. Organisasi kesehatan dan otoritas cuaca Eropa kini mengingatkan bahwa peristiwa serupa berpotensi semakin sering terjadi pada tahun - tahun mendatang. 

Pemerintah di berbagai negara didorong untuk memperkuat sistem peringatan dini, melindungi kelompok rentan, serta meningkatkan kesiapan layanan kesehatan guna mengurangi risiko korban jiwa saat gelombang panas ekstrem kembali melanda.(*

Editor : Juliana Belence
ekstrem gelombang panas kematian inggris