batampos – Belanda mempercepat transformasi Angkatan Laut Kerajaan (Royal Netherlands Navy) dengan mengintegrasikan kapal nirawak, drone, robot bawah laut, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam satu sistem operasi terpadu.
Transformasi tersebut sedang diuji melalui serangkaian simulasi selama lima pekan di perairan Den Helder, yang menjadi pusat pengembangan teknologi maritim Belanda.
Dalam uji coba itu, kapal nirawak Defender 1 dan Defender 2, drone udara Noa, serta robot bawah laut buatan Lobster Robotics dioperasikan secara bersamaan untuk melaksanakan misi pengawasan dan pemetaan ranjau tanpa awak manusia.
Seluruh perangkat dikendalikan melalui jaringan komando terintegrasi yang memungkinkan berbagai sistem baru ditambahkan seiring perkembangan teknologi.
Kepala Pusat Keahlian Sistem Nirawak Angkatan Laut Belanda, Kapten Sjoerd Feenstra, mengatakan transformasi tersebut merupakan bagian dari perubahan besar yang tengah dilakukan organisasinya.
"Selama satu setengah tahun terakhir kami bekerja mengubah organisasi. Sekitar 10 tahun lagi, platform berawak akan dikelilingi oleh sistem-sistem nirawak yang dapat beroperasi secara mandiri dengan tingkat otonomi setinggi mungkin," kata Feenstra, seperti dikutip The Guardian, Sabtu (18/7).
Lebih dari Separuh Operasi Libatkan Sistem Nirawak
Modernisasi itu juga tercermin dalam kebijakan pertahanan Belanda. Pemerintah menargetkan lebih dari 50 persen operasi militer dalam lima tahun ke depan akan melibatkan sistem nirawak.
Langkah serupa juga ditempuh Inggris yang berencana mengalokasikan lebih dari 5 miliar poundsterling atau sekitar Rp121,2 triliun untuk pengembangan teknologi nirawak dalam lima tahun mendatang.
Pusat pengujian teknologi tersebut berada di kapal GeoSea, yang sebelumnya digunakan untuk memantau dasar laut di kawasan ladang angin lepas pantai. Kini kapal itu difungsikan sebagai pusat operasi berbagai sistem nirawak.
Menurut Feenstra, pemanfaatan teknologi tersebut bertujuan mengurangi risiko bagi personel militer.
"Tujuannya adalah melakukan sebanyak mungkin pekerjaan dengan sistem nirawak agar manusia tidak berada di zona berbahaya," ujarnya.
Selain meningkatkan keselamatan, penggunaan AI dan sistem nirawak juga dinilai mampu menangani volume informasi yang semakin besar dan mempercepat proses pengawasan.
Dalam simulasi, ketika muncul perintah memantau sebuah kapal, dua kapal nirawak Defender langsung bergerak menuju sasaran, dua drone Noa diterbangkan, sementara satu drone berukuran lebih besar diterbangkan pada ketinggian tinggi untuk memperluas area pemantauan.
AI Tidak Gantikan Manusia
Meski mengandalkan kecerdasan buatan, Angkatan Laut Belanda menegaskan AI hanya berfungsi sebagai pendukung pengambilan keputusan, bukan pengganti manusia.
Pemimpin Integrasi Perangkat Lunak Angkatan Laut Belanda, Ferdinand Peters, mengatakan penggunaan AI harus tetap dibatasi secara bijak.
"Kita harus membiarkan sistem bekerja untuk membantu kita, tetapi bukan berpikir menggantikan kita. Kita harus benar-benar mempertimbangkan kapan AI digunakan dan kapan tidak," katanya.
Feenstra juga menegaskan keputusan terkait penggunaan kekuatan mematikan akan tetap berada di tangan manusia.
"Manusia akan selalu menjadi bagian dari rantai pengambilan keputusan," ujarnya.
Jadi Pengganda Kekuatan
Analis pertahanan maritim Lee Willett menilai langkah Belanda menunjukkan bagaimana negara dengan angkatan laut relatif kecil dapat meningkatkan kemampuan tempurnya melalui inovasi teknologi.
Menurutnya, posisi strategis Belanda di kawasan Laut Utara dan Laut Baltik membuat pengembangan sistem nirawak menjadi kebutuhan penting sebagai force multiplier atau pengganda kekuatan.
Sementara itu, peneliti senior Royal United Services Institute (RUSI), Sidharth Kaushal, mengatakan sistem nirawak juga dapat mengurangi penugasan personel dalam waktu lama di laut.
"Sistem nirawak tidak sepenuhnya menghilangkan kebutuhan tenaga manusia, tetapi menciptakan keseimbangan baru. Inilah arah perkembangan yang sedang dituju," ujarnya.
Editor : Jamil Qasim