AS dan Arab Saudi Serang Milisi Pro-Iran di Irak, 20 Orang Tewas

jpg • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 21:01 WIB
Militer AS dan Arab Saudi lancarkan serangan udara ke Iraq. (Reuters)
Militer AS dan Arab Saudi lancarkan serangan udara ke Iraq. (Reuters)

batampos — Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap sejumlah basis milisi yang didukung Iran di Irak. Sedikitnya 20 anggota kelompok tersebut dilaporkan tewas, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Iran meluncurkan rudal ke arah pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Aksi saling serang ini meningkatkan kekhawatiran konflik regional kembali memasuki fase yang lebih luas.

Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington akan memberikan respons keras atas serangan Iran. Ketika ditanya mengenai serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania, Trump menyatakan, "They're going to get a beating" atau "Mereka akan dihajar keras."

Baca Juga: Jalan Panbil–K-Square Berlubang, BP Batam Pastikan Masuk Target Perawatan

Ketegangan terbaru ini turut berdampak pada keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak dunia. Harga minyak global dilaporkan mengalami kenaikan akibat meningkatnya kekhawatiran pasar.

AS Klaim Serang Kelompok yang Mengancam Pasukan dan Infrastruktur Saudi

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi gabungan dengan Arab Saudi menargetkan fasilitas logistik dan gudang senjata milik kelompok yang disebut sebagai milisi pro-Iran di Irak timur.

Menurut CENTCOM, kelompok tersebut merupakan milisi yang berafiliasi dengan Iran dan disebut mendapatkan arahan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk menyerang pasukan AS serta fasilitas energi Arab Saudi.

Militer AS mengklaim serangan tersebut merupakan respons atas lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan terhadap kepentingan AS dalam kurun waktu 72 jam terakhir.

Baca Juga: KPK Ungkap Modus Pemerasan Bupati Pemalang, Libatkan Pegawai KPK dan Ayahnya

"IRGC dan kelompok proksinya harus menghentikan serangan ini untuk menghindari respons militer AS lebih lanjut," demikian pernyataan CENTCOM.

CENTCOM juga menyatakan seluruh serangan drone sebelumnya berhasil digagalkan dan tidak mencapai target.

Arab Saudi Klaim Bertindak untuk Membela Diri

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan kelompok milisi yang didukung Iran telah meluncurkan drone dari wilayah Irak menuju fasilitas minyak di kawasan Timur dan Riyadh.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan tindakan militer tersebut dilakukan sebagai bentuk hak membela diri.

"Kerajaan Arab Saudi menegaskan kembali bahwa mereka tidak mencari eskalasi, tetapi akan merespons dengan tegas setiap agresi yang ditujukan terhadapnya," ujar Turki al-Maliki, dikutip dari BBC.

PMF Konfirmasi 20 Anggota Tewas

Sementara itu, Popular Mobilisation Forces (PMF), kelompok paramiliter Irak yang banyak beranggotakan kelompok Syiah pro-Iran, mengonfirmasi 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka akibat serangan gabungan AS dan Arab Saudi.

Serangan dilaporkan menghantam sejumlah markas PMF di beberapa wilayah Irak, termasuk Baghdad, Wasit, Nineveh, Basra, Kirkuk, Karbala, dan Diyala.

Seorang pejabat yang dikutip AFP menyebut wilayah Nineveh dan Diyala menjadi lokasi dengan korban terbanyak.

PMF mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang melanggar kedaulatan Irak.

Presiden Irak juga mengecam aksi pemboman terhadap markas PMF dan menyatakan serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.

Namun, Presiden Trump menyebut operasi militer itu telah dikoordinasikan dengan pemerintah Irak.

Iran Kecam Serangan AS-Saudi

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras serangan tersebut. Teheran menilai aksi AS merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan menuduh Washington bersama Israel berupaya memperluas konflik di Timur Tengah.

Iran memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya akan bertanggung jawab atas dampak dari meningkatnya ketegangan tersebut.

Iran Sebelumnya Serang Pangkalan AS dan Kapal Tanker

Sebelumnya, IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal ke pangkalan udara AS serta pusat komando militer di Yordania sebagai respons atas tindakan Amerika Serikat yang disebut sebagai agresi.

Iran juga mengaku menyerang tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz karena dianggap mengabaikan peringatan dan melintasi jalur yang dinilai tidak aman.

Namun, CENTCOM menyatakan seluruh rudal Iran berhasil dicegat dan tidak menyebabkan kerusakan berarti.

Eskalasi antara AS, Arab Saudi, dan Iran ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, terutama terkait jalur energi global dan potensi meluasnya konflik. (*)

Editor : Jamil Qasim
AS dan Arab Saudi Milisi Pro-Iran