Trump Ingin Kuasai Selat Hormuz, Iran Tegaskan Masih di Bawah Kendalinya

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 15:31 WIB
Ilustrasi kapal tanker di perairan Selat Hormuz. ( AP Photo/Kamran Jebreili)
Ilustrasi kapal tanker di perairan Selat Hormuz. ( AP Photo/Kamran Jebreili)

batampos – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah Iran disebut berhasil dikalahkan. Pernyataan tersebut muncul ketika jalur pelayaran strategis itu justru mengalami penurunan aktivitas akibat meningkatnya ketegangan dan blokade terhadap Iran.

“Tak lama lagi aku akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” kata Trump, seperti dilansir Iran International.

Pernyataan Trump langsung mendapat bantahan dari Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Iran. Menurutnya, keputusan untuk membuka atau menutup jalur pelayaran tersebut berada di tangan Teheran.

“Selat Hormuz telah menjadi milik Iran, adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran,” tulis Gharibabadi melalui akun X miliknya.

Ia menambahkan, jalur strategis tersebut akan dibuka maupun ditutup berdasarkan keputusan dan komando Iran.

Pernyataan Trump dan respons keras Teheran muncul di tengah penurunan drastis aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Data Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Jumat. Pada hari yang sama, tidak terlihat adanya pengiriman minyak mentah yang melewati jalur tersebut.

Jumlah tersebut turun dibandingkan sembilan kapal pada Kamis dan lima kapal pada Rabu. Sebagai pembanding, rata-rata sekitar 12 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari sepanjang Agustus.

Kondisi tersebut sangat berbeda dibandingkan sebelum perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada Februari. Saat itu, lebih dari 130 kapal tercatat melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Penurunan lalu lintas kapal menunjukkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz tidak sekadar menjadi persoalan retorika politik. Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut mulai berdampak terhadap pergerakan kapal dan distribusi energi.

Di tengah situasi tersebut, militer Iran membantah klaim Amerika Serikat bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih berjalan normal.

Teheran menyatakan kapal-kapal tidak dapat melintas tanpa memperoleh otorisasi dari Iran. Sikap tersebut memperkuat klaim Iran bahwa mereka masih memegang kendali operasional atas salah satu jalur laut paling strategis di dunia.

Gharibabadi juga menegaskan bahwa Iran akan menentukan sendiri kapan Selat Hormuz dibuka atau ditutup.

Ia menyatakan Teheran akan mempertahankan blokadenya hingga Washington menerima apa yang disebutnya sebagai “kekalahan strategis”.

Pernyataan Trump untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS pun berhadapan langsung dengan klaim Iran atas kendali jalur pelayaran tersebut.

Sementara itu, Washington terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Komando Pusat AS atau US Central Command menyatakan pasukannya telah mengalihkan 62 kapal komersial, melumpuhkan tiga kapal, serta menaiki dua kapal hingga 14 Agustus sebagai bagian dari penerapan blokade terhadap Iran.

Menteri Perang AS Pete Hegseth sebelumnya mengatakan Amerika Serikat dapat mempertahankan blokade tersebut untuk waktu yang tidak terbatas dengan melakukan rotasi kapal.

Tekanan terhadap Iran juga dilakukan melalui jalur ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan menerapkan langkah-langkah ekonomi terhadap Iran yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk semakin mengisolasi Teheran.

Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran di tengah konflik yang semakin meluas.

Editor : Jamil Qasim
Donald Trump dievakuasi selat hormuz