AS Diam-Diam Kendalikan Selat Hormuz

JawaPos • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 08:02 WIB
Ilustrasi pelayaran kapal di Selat Hormuz. Foto: JP Group
Ilustrasi pelayaran kapal di Selat Hormuz. Foto: JP Group

batampos - Operasi militer Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz yang selama ini berlangsung secara tertutup mulai terungkap. Militer AS disebut telah mengendalikan jalur pelayaran di sisi selatan selat tersebut untuk memastikan kapal tanker minyak tetap dapat keluar masuk kawasan Teluk di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Mengutip laporan Axios, dua pejabat AS menyebut sekitar 15 hingga 20 kapal tanker melintasi jalur selatan Selat Hormuz setiap malam. Jalur tersebut berada di sepanjang pesisir Oman dan menjadi koridor utama bagi kapal pengangkut minyak.

Melalui operasi tersebut, hampir 10 juta barel minyak per hari berhasil dialirkan dari kawasan Teluk menuju pasar energi global.

Atur Pergerakan Kapal Tanker

Operasi militer AS tidak hanya mengawal kapal tanker bermuatan minyak, tetapi juga mengatur pergerakan kapal tanker kosong yang datang dari Laut Arab menuju pelabuhan-pelabuhan di kawasan Teluk.

Setelah memuat minyak, kapal-kapal tersebut kembali melintasi Selat Hormuz menuju Laut Arab melalui jalur yang telah ditentukan.

Militer AS menyusun daftar kapal yang akan keluar maupun masuk setiap hari. Seluruh pergerakan dilakukan secara terjadwal dalam kelompok pada malam hari guna meminimalkan risiko serangan.

Washington juga memberikan panduan rute kepada setiap kapal yang melintasi jalur selatan.

Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa pengendalian jalur tersebut telah berlangsung selama sekitar dua bulan.

"Kami telah mengendalikan jalur selatan Selat Hormuz selama dua bulan sekarang. Korps Garda Revolusi Islam bisa menjadi gangguan, tetapi mereka tidak mengendalikan selat. Kami melakukannya," kata pejabat tersebut.

Kemampuan Pengawasan Iran Diklaim Menurun

Menurut pejabat AS, pemilihan jalur selatan dilakukan setelah kemampuan Iran memantau lalu lintas maritim disebut mengalami penurunan.

Kondisi itu diklaim terjadi setelah operasi militer selama dua pekan yang dilakukan Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM), yang disebut merusak sejumlah radar dan sistem pengawasan maritim Iran.

Akibatnya, Iran disebut hanya mengandalkan beberapa radar yang telah dipulihkan serta kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk melakukan pemantauan.

AS juga menilai kondisi tersebut membuat Iran lebih banyak mengandalkan drone dan rudal jelajah untuk menyerang jalur pelayaran yang diperkirakan dilalui kapal tanker.

Meski demikian, risiko serangan masih tetap ada. Beberapa kapal dilaporkan sempat menjadi sasaran serangan, sementara militer AS mengklaim berhasil menggagalkan sejumlah ancaman.

Pada awal pekan ini, pasukan AS disebut menembak jatuh delapan drone dan dua rudal jelajah yang diluncurkan Iran.

Jaga Stabilitas Pasokan Minyak Dunia

Operasi tersebut dinilai memiliki dampak besar terhadap stabilitas pasar energi global.

Pasokan hampir 10 juta barel minyak per hari dari kawasan Teluk membantu mengurangi tekanan terhadap pasokan dunia yang sempat terganggu akibat konflik.

Meski demikian, volume tersebut masih berada di bawah kondisi normal sebelum ketegangan meningkat.

Pejabat AS menyebut arus minyak terus menunjukkan peningkatan. Dalam beberapa malam terakhir, volume minyak yang berhasil melintasi Selat Hormuz bahkan disebut mencapai 15 hingga 20 juta barel.

Pada salah satu malam pekan ini, lebih dari 20 kapal tanker dijadwalkan keluar masuk Selat Hormuz melalui jalur selatan, dengan potensi pengangkutan sekitar 15 juta barel minyak.

Jet Tempur Disiagakan

Operasi pengamanan dipimpin oleh satuan tugas yang bermarkas di Fort Bragg, North Carolina, dan berkoordinasi dengan sejumlah negara mitra di kawasan Teluk.

Selain mengatur jadwal pergerakan kapal, militer AS juga mengerahkan jet tempur Angkatan Udara AS untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman drone maupun rudal jelajah selama kapal melintasi jalur tersebut.

Dengan sistem pengawalan dan pengaturan tersebut, jalur pelayaran di Selat Hormuz kini menjadi koridor strategis yang dijaga ketat untuk memastikan distribusi minyak dunia tetap berjalan di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. (*)

Editor : Putut Ariyo
energi global Harga Minyak amerika serikat selat hormuz iran