Iran Dukung Pakta Mekkah, Sebut Persatuan Muslim Penting Hadapi Ancaman

Antara • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 16:31 WIB
Menyusul pengumuman kesepakatan kerangka kerja pendahuluan antara Amerika Serikat dan Iran, beragam opini politik muncul di seluruh ibu kota, meskipun sebagian besar masyarakat tetap optimis tentang gencatan senjata yang langgeng menjelang upacara penandatanganan nota kesepahaman resmi yang dijadwalkan pada hari Jumat, 19 Juni, di Jenewa, Swiss. Anadolu Agency/pri.
Ilustrasi bendera Iran. Anadolu Agency/pri.

batampos – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan dukungannya terhadap pembentukan Pakta Pertahanan Mekkah yang melibatkan Turki, Pakistan, dan Arab Saudi. Menurutnya, kesepakatan tersebut dapat menjadi cerminan persatuan negara-negara Muslim.

"Kami menyambut Perjanjian Mekkah. Iran senantiasa meyakini bahwa persatuan dan solidaritas negara-negara Islam dapat mencegah rezim Israel menyerang negara Muslim dengan mudah," demikian pernyataan Kepresidenan Iran pada Senin (31/8).

Dalam pernyataan tersebut, Iran berharap sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Muslim lainnya dapat ikut berpartisipasi dalam pakta tersebut.

Iran juga mendorong perluasan kerja sama tidak hanya di bidang pertahanan, tetapi juga mencakup politik, ekonomi, dan budaya.

Sebelumnya, pada 24 Agustus 2026, Iran menyatakan belum menerima undangan resmi untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Mekkah. Meski demikian, Teheran telah menerima tawaran dialog mengenai isu keamanan kolektif di kawasan Timur Tengah.

Pakta Pertahanan Bersama Mekkah yang ditandatangani pada 7 Agustus menjadi dasar penguatan kerja sama pertahanan kolektif. Dalam kesepakatan tersebut, serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Kesepakatan itu juga membuka ruang bagi peningkatan koordinasi dan kerja sama militer, termasuk pengembangan sejumlah proyek bersama di sektor industri pertahanan.

Sementara itu, saat bertemu Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan bahwa Pakta Pertahanan Mekkah tidak ditujukan untuk menyerang negara tertentu.

Fidan mengatakan kesepakatan tersebut tetap membuka peluang bagi negara lain untuk bergabung. Menurut dia, peta jalan terkait perluasan keanggotaan tengah dikembangkan, sementara prinsip-prinsip kerja sama masih dalam tahap penyusunan. (*)

Editor : Jamil Qasim
iran