batampos – Industri makanan dan minuman (F&B) Singapura masih menghadapi tekanan biaya dan tingginya harga sewa. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan pelaku usaha membuka restoran baru.
Data Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) mencatat 2.594 restoran baru terdaftar di Singapura sepanjang Januari hingga Juli 2026. Angka tersebut sudah melampaui separuh dari total restoran dan usaha makanan baru yang tercatat sepanjang 2025, yakni sekitar 4.100 usaha.
Ekspansi sejumlah merek internasional turut mewarnai pertumbuhan bisnis kuliner di Singapura.
Salah satunya Lotteria, jaringan restoran cepat saji asal Korea Selatan. Mengutip The Straits Times, Lotteria membuka outlet keduanya di Singapura pada Juli 2026 di Jurong Point. Gerai tersebut memperluas jangkauan Lotteria ke wilayah barat Singapura.
Dari Indonesia, jaringan restoran nasi padang Sederhana juga mulai berekspansi ke pasar Singapura. Channel News Asia melaporkan, Sederhana membuka gerai pertamanya di Kampong Glam pada pertengahan Juni 2026.
Gerai tersebut menempati lokasi bekas Warong Nasi Pariaman.
Restoran Jepang dan Korea Ikut Ramaikan Pasar
Selain Lotteria dan Sederhana, sejumlah merek kuliner Jepang dan Korea juga membuka usaha baru di Singapura.
Beberapa di antaranya adalah restoran hamburger steak Hikiniku To Come dan jaringan restoran yakitori Torikizoku dari Jepang.
Sementara itu, dari Korea Selatan terdapat Jiho Samgyetang, SBCD, dan Bibim Deli yang ikut memperluas pilihan kuliner di Singapura.
Meski jumlah restoran baru terus bertambah, tingkat penutupan usaha juga mengalami peningkatan.
ACRA mencatat 2.101 bisnis makanan tutup sepanjang Januari hingga Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 25,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan biaya operasional dan tingginya harga sewa menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha F&B.
Namun, jumlah pembukaan restoran masih lebih tinggi dibandingkan penutupan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian pelaku usaha tetap melihat peluang di pasar kuliner Singapura meski tingkat pergantian bisnis di sektor tersebut dikenal tinggi.
Pariwisata Jadi Penopang Bisnis Kuliner
Pertumbuhan bisnis F&B Singapura juga tidak terlepas dari prospek pariwisata.
Singapore Tourism Board (STB) mencatat Singapura menerima 1,63 juta wisatawan mancanegara pada Juli 2026. Angka tersebut menjadi capaian bulanan tertinggi sepanjang tahun ini.
Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara selama Januari-Juli 2026 mencapai 9,8 juta. Namun, angka tersebut masih turun 1,9 persen secara tahunan, terutama karena melambatnya kunjungan dari sejumlah pasar utama, termasuk Indonesia dan India.
Pemerintah Singapura menargetkan 17 juta hingga 18 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2026. Investasi pemerintah di sektor pariwisata juga terus ditingkatkan untuk mendukung target tersebut.
Singapura kini berupaya mendorong wisatawan agar tidak hanya beraktivitas di kawasan pusat kota. Pemerintah juga mengembangkan daya tarik wisata dan kuliner malam di berbagai kawasan untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang menginap sekaligus memperpanjang waktu kunjungan.
Bagi sektor F&B, strategi tersebut membuka peluang bagi restoran dan bisnis makanan untuk mendapatkan lebih banyak konsumen, terutama dari wisatawan mancanegara. (*)
Editor : Putut Ariyo