Dilansir dari Kyodo, Rabu (23/9), seorang pejabat senior pemerintah Iran mengatakan proposal tersebut telah disampaikan kepada Washington melalui sejumlah mediator. Iran juga mengusulkan dimulainya kembali pembicaraan untuk mencapai penghentian permusuhan secara permanen antara kedua negara.
Teheran berencana memanfaatkan pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan ini untuk berkonsultasi dengan negara-negara yang berperan sebagai mediator.
Pejabat tersebut menutup kemungkinan pertemuan antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump di sela-sela agenda PBB. Namun, ia mengatakan masih ada peluang untuk mencapai kesepakatan.
“Ada kemungkinan untuk bergerak menuju kesepakatan,” kata pejabat tersebut.
Meski demikian, ia menegaskan Washington harus menunjukkan keseriusan dan komitmen jika ingin kemajuan diplomasi tercapai.
Iran Minta Tekanan Militer Dikurangi
Iran menginginkan tanda-tanda bahwa Washington siap kembali ke meja perundingan. Teheran juga meminta AS mengakhiri blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta menghentikan operasi militer yang berkaitan dengan Selat Hormuz.
Jika tuntutan tersebut dipenuhi, Iran menyatakan siap membuka kembali jalur perairan strategis itu dalam waktu tujuh hari dan kembali ke meja perundingan.
Penekanan terhadap jalur diplomasi meningkat ketika pembatasan terhadap pelabuhan Iran semakin menekan ekspor minyak mentah. Komoditas tersebut merupakan salah satu sumber pendapatan utama Iran.
Konfrontasi berkepanjangan juga mengganggu lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Menurut pejabat tersebut, inisiatif terbaru itu telah disetujui Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei pada Sabtu mengatakan Teheran telah menyampaikan tujuh syarat kepada Washington. Salah satunya adalah penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran dan pembukaan kembali aset Iran yang dibekukan.
Namun, pejabat Iran yang berbicara kepada Kyodo tidak menjelaskan apakah proposal terbaru tersebut menunjukkan bahwa Iran melonggarkan sebagian dari tujuh syarat tersebut.
Tenggat 45 Hari Semakin Dekat
Proposal tersebut muncul ketika tenggat waktu yang ditetapkan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran semakin dekat.
Menurut pejabat tersebut, dewan memutuskan pada 16 Agustus bahwa Iran tetap memiliki opsi untuk melancarkan serangan lain terhadap pasukan AS jika Washington gagal mencabut blokade pelabuhan Iran dalam waktu 45 hari.
Perang tersebut dimulai pada akhir Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Nota kesepahaman antara AS dan Iran yang dicapai pada Juni kemudian gagal bertahan setelah permusuhan kembali terjadi dan sejumlah perselisihan belum terselesaikan.
Sementara itu, aktivitas pelayaran komersial melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Kedua pihak sejak itu terlibat dalam pertukaran serangan secara berkala. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa permusuhan dapat kembali meningkat menjadi konflik berskala penuh.(*)
Editor : Cipi Ckandina