batampos – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi kemunculan Siklon Tropis Algupit di Samudra Pasifik yang berpotensi memicu peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Dampak tersebut terjadi akibat terbentuknya daerah konvergensi dan sirkulasi siklonik yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Prakirawan BMKG, Massayu, dalam siaran cuaca yang dipantau dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (9/5), menjelaskan bahwa siklon terdeteksi berada di timur Filipina. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 40 knot dengan tekanan udara minimum 998 hektopascal.
“Siklon Tropis Algupit bergerak ke arah barat-barat laut. Meski intensitasnya diperkirakan menurun dalam 48 jam ke depan, sistem ini tetap memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia,” ujarnya.
BMKG menjelaskan, keberadaan siklon tersebut memicu aliran angin kencang lapisan bawah (low level jet) di Samudra Pasifik timur Filipina serta membentuk daerah konvergensi dari perairan utara Papua Barat Daya hingga Papua.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi sirkulasi siklonik di Laut Natuna Utara, Serawak, dan Selat Kalimantan bagian selatan. Kondisi ini membentuk daerah konvergensi yang memanjang dari pesisir utara Kalimantan Barat hingga Sulawesi Barat dan Kalimantan Timur.
Kombinasi dinamika atmosfer tersebut dinilai meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan secara signifikan di sejumlah wilayah.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat, terutama di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.
Untuk prakiraan cuaca di kota-kota besar, hujan disertai petir berpotensi terjadi di Pangkal Pinang dan Banjarmasin. Sementara hujan dengan intensitas sedang diperkirakan mengguyur Tanjungpinang, Padang, dan Mamuju.
Adapun Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bandar Lampung diprediksi mengalami cuaca berawan tebal. Sedangkan Denpasar, Mataram, Kupang, Ternate, dan Jayapura diperkirakan cerah berawan hingga berawan tebal.
BMKG mengingatkan masyarakat agar terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, maupun angin kencang. (*)
Editor : Jamil Qasim