Batampos - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menerapkan tarif 100 persen untuk semua film yang diproduksi di luar negeri. Kebijakan baru ini sebagai upaya dalam menghidupkan kembali produksi film Hollywood.
"Kami ingin film dibuat di Amerika lagi!" tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social, Minggu (4/5/2025) waktu setempat.
Ia menyebut, industri perfilman Amerika saat ini sedang sekarat akibat banyaknya produksi yang dialihkan ke luar negeri demi mengejar biaya murah dan insentif pajak dari negara lain.
Sontak, kebijakan ini langsung mengejutkan para eksekutif Hollywood, karena diumumkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka kebingungan dan bahkan belum tahu bagaimana tarif tersebut akan diberlakukan, mengingat produksi film sering kali melibatkan banyak negara, mulai dari proses pengambilan gambar, pengeditan hingga pascaproduksi.
Asosiasi Film Amerika (Motion Picture Association) belum memberikan komentar resmi terkait pengumuman ini.
Produksi Film AS Berpindah ke Luar Negeri karena Insentif Pajak
Selama lebih dari dua dekade, banyak studio besar Hollywood memindahkan lokasi syuting ke negara-negara seperti Kanada, Inggris, Hungaria, Jerman, Selandia Baru, Australia, dan Republik Ceko. Negara-negara ini menawarkan insentif pajak besar untuk menarik industri kreatif dan memperkuat perekonomian lokal mereka.
Fenomena ini menyebabkan migrasi besar-besaran pekerjaan bergaji tinggi dari wilayah Los Angeles, yang kini semakin kehilangan posisi strategis sebagai pusat perfilman dunia. Menurut laporan FilmLA, produksi film, serial TV, dan iklan di wilayah ini turun 22,4 persen pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Trump menyebutkan, tawaran insentif dari negara lain tersebut merupakan upaya bersama yang merusak industri dalam negeri. Bahkan menyebutkan ini sebagai bentuk ancaman terhadap keamanan nasional. "Banyak wilayah di AS, termasuk Hollywood, kini “dihancurkan” oleh persaingan global yang tidak sehat," ujarnya.
Sebelumnya, awal tahun lalu, Trump juga menunjuk tiga aktor, yakni Jon Voight, Sylvester Stallone, dan Mel Gibson sebagai duta khusus Hollywood untuk membantunya membangkitkan industri perfilman Amerika kembali. Namun hingga saat ini, belum ada aksi konkret dari ketiganya dan pelaku industri mengaku belum pernah mendengar kabar dari mereka.
Sementara itu, Bloomberg News melaporkan, Jon Voight dan manajernya, Steven Paul, tengah menyusun proposal yang akan diajukan ke Trump untuk memberikan insentif nasional yang dapat menyaingi tawaran dari luar negeri. "Jika ingin bersaing secara global, pemerintah federal harus menawarkan insentif pajak yang setara," ujar Paul dalam wawancaranya dengan Bloomberg seperti dikutip dari Los Angeles Times, Senin (5/5/2025).
Namun, tidak semua pihak sepakat. Produser Randy Greenberg menilai tarif tersebut justru akan menjadi bumerang. Dalam unggahan di LinkedIn, ia menyatakan, tarif ini akan meningkatkan biaya produksi. Dengan begitu, studio akan mendesak bioskop menaikkan harga tiket, penonton akan enggan menonton. "Dan akhirnya... Kita tahu ke mana arah ini," ungkapnya.
Langkah Trump ini bisa menjadi awal perubahan besar bagi industri perfilman Amerika. Namun tanpa koordinasi dan strategi yang matang, tarif 100 persen ini dikhawatirkan justru memperparah tantangan yang sedang dihadapi Hollywood pasca pandemi, pemogokan pekerja industri hiburan, dan persaingan ketat di era layanan streaming saat ini. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak