Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Peresmian Westin Nirup, Mimpi dari Pulau Kecil yang Kini jadi Ikon Wisata Dunia Bernilai Investasi Rp 900 Miliar

Chahaya Simanjuntak • Selasa, 3 Juni 2025 | 19:55 WIB

Owner Pulau Nirup, Hartono dan istri.
Owner Pulau Nirup, Hartono dan istri.

Batampos - Pulau Nirup merupakan daratan di tengah laut seluas 20 hektare. Dulunya, pulau ini tak berpenghuni. Hanya tumbuhan hijau khas tropis liar, yang bertemankan ombak dan angin. Namun kini, pulau kecil di Sekanakraya ini berdiri megah menjadi destinasi wisata berkelas dunia.

Bangunan megah menjulang. Dinding atap bertuliskan Westin. Dengan lambaian puluhan pohon kelapa dan tumbuhan hijau khas kepulauan menjadi wajah Pulau Nirup yang diresmikan Selasa (3/6/2025). Kapal cepat yang kami tumpangi mendekat. Dari atas Marina, Hartono, pengusaha yang mengembangkan pulau Nirup, beserta istrinya, Elfa Susanti menyambut.

Mengenakan kemeja batik bermotif burung berbahan dasar hitam, Hartono menyapa hangat. "Selamat datang di Pulau Nirup. Terima kasih atas pemberitaannya dan dukungannya selama ini dalam mendukung pengembangan tempat ini," ujarnya.

Pulau Nirup kini menjadi destinasi wisata baru berkelas internasional di Batam. Memiliki satu resort yakni The Westin Nirup Island Resort and Spa. Hotel premium grup dari Marriott Internasional.

Hartono menyebutkan, dipilihnya hotel ini hadir di Nirup, karena namanya yang sudah besar sebagai salah satu hotel dan resort berjaringan terbaik di dunia. "Westin itu besar. Jaringannya kuat, terbaik di dunia dengan 200 juta member secara global. Menghadirkannya di Nirup bukanlah hal yang mudah. Tapi akhirnya bisa. Setelah Jakarta dan Bali, kini Westin hadir di Kepri dan di sini, di Pulau Nirup," ujar Hartono.

The Westin Nirup ini, menjadi simbol transformasi kawasan pesisir yang dulunya terpinggirkan, menjadi destinasi wisata dan harapan ekonomi baru di Kepri.

Bukan tanpa alasan Hartono mengembangkan Pulau Nirup ini. Tak sekadar proyek bisnis, Westin Nirup ini adalah wujud mimpi panjang Hartono.Pria kelahiran Belakangpadang, 67 tahun lalu ini mendadak mengenang masa kecilnya. Masa kecilnya, ia kategorikan sebagai orang susah.

Semasa muda, ia harus berjibaku berjualan beras dan gula untuk bertahan hidup di Batam, 1980-an. "Pada usia 22 tahun, saya mulai membuka pergudangan di kawasan Seraya. Pekerjaan saya di sana itu, prosesnya nggak gampang, tapi saya terus bekerja," ujarnya.

Pada usia 28 tahun, Hartono menikah dengan istrinya Elfa Susanti. Bersama istrinya ia mulai menjalankan usaha bisnis pergudangan, properti, dan hingga kini sukses mempekerjakan lebih dari 2.000 karyawan di bawah naungan Citra Buana Prakarsa Group yang dia bangun dari nol, termasuk PT Tritunas Sinar Benua, yang membidangi pengembangan Pulau Nirup ini.

Kini, di usia matang dan pengalaman bisnis puluhan tahun, Hartono atau yang dikenal juga dengan Akau ini hadir bukan hanya sebagai pengusaha, tapi juga penggerak perubahan sosial. "Ini tujuan hidup saya. Memberdayakan warga kampung di sini untuk mendapat pekerjaan yang layak," ujarnya.

Sebanyak 70 persen dari sekitar 200 pekerja di Nirup adalah warga tempatan dari berbagai pulau di sekitarnya. Ia tak menuntut keahlian tinggi dari warga, hanya satu syarat. "Yang penting mau belajar," tegasnya.

"Saya mengembangkan Nirup ini, salah satu tujuan utamanya yaitu  mempekerjakan orang kampung (warga tempatan,red) dari berbagai pulau di sekitar sini. Saya terima mereka, dengan bekerja, mereka akan mendapat pengalaman dan paham dunia pariwisata dan perhotelan, yang penting mau belajar. Dengan begitu mereka tidak tertinggal lagi dan bisa memperbaiki taraf hidupnya," ujarnya lagi.

"Kalau untuk diri sendiri, saya sudah merasa cukup. Tapi saya tak mau berhenti di sini saja. Sudah saatnya saya membangun kampung," tambahnya.

Senada dengan Hartono, Jimmi Ho, Komisaris PT Tritunas Sinar Benua juga menyebutkan komitmennya memberdayakan warga lokal tak hanya berhenti di tenaga kerja. Melainkan, kerjasama para pengusaha dan investor untuk membangun pulau-pulau di sekitar Nirup, dengan begitu wisata bahari Kepri semakin berwarna pun menjadi harapannya.

Selain itu, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pun dilibatkan dalam ekosistem pariwisata di Nirup ini. "Bukan hanya sekedar mengembangkan bisnis, tapi ini menjadi warisan untuk generasi mendatang," ujarnya.

Pembukaan Westin Nirup menjadi momentum penting bagi Jimmi, yang menyebutkan ayahnya, Hartono sebagai sosok yang dia hormati dan dianggap sebagai guru."Ini bukan perjalanan yang mudah. Ini berawal dari mimpi Hartono ingin menjadikan Kepri, melalui Pulau Nirup sebagai ikon baru pariwisata Indonesia berkelas dunia," ujarnya.

"Hartono, papa saya, menjadi orang yang pertama melihat potensi Pulau Nirup. Yang hanya awalnya pulau dengan  tanaman hijau, ombak dan angin.Di saat orang melihat keterbatasan, beliau melihat kemungkinan. Nirup bukan hanya dibangun dengan baja, tapi juga dengan hati. Dan ini menjadi perwujudan mimpi papa saya," tambahnya.

Pulau Nirup dikembangkan menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan, inklusif, dengan fokus pengembangan wisata hijau dengan nilai yang cukup fantastis. "Nilai investasinya di angka Rp 900 miliar," ujar Jimmi. (*)

 

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Westin Nirup #marriott international #The Westin Nirup Island Resort and Spa #Hartono #wisata batam #Wisata Kepri #Pulau Nirup #Nirup Island